Senin, 13 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 1-2

LANJUTAN ....

            Ella menghampiriku setelah puas berkeliling dan foto-foto. Keheranan tampak jelas di wajah Ella ketika melihat aku tersenyum, sendiri. Ella mengedarkan pandangan mencari pada siapa aku memberi senyum dan akhirnya menerima kenyataan bahwa temannya yang satu ini memang sedikit berbeda dari yang lain. Sudah hampir dua jam berlalu dan satu jam lagi pesawat yang sama akan membawaku pulang. Ah pulang, kata yang menjadi momok bagiku sejak beberapa waktu yang lalu.  Kemana aku harus pulang? Belum sempat otakku berpikir, Ella tiba-tiba cekikikan.

“Belum ada sehari lu udah dapet fans, tuh” Ella menunjuk ke arahku dengan dagunya. Aku mengernyitkan dahi. Wah sakit nih si Ella. Kemudian ada sesuatu yang dingin, basah, dan sedikit kasar menjilat tanganku yang menganggur. Spontan aku langsung berdiri dan setengah berteriak, setengah mengutuk. Anjing sialan!

Anjing pudle kecil yang sekilas mirip kambing itu masih menjulurkan lidahnya ke arahku. Bahkan anjing pun mencibirku. Aku menatapnya tajam dan Ella yang memperhatikan kami berdua semakin keras tertawa.

 “Jangan dipelototin gitu, Mi, anjingnya kasian. Liat lucu gitu ih” ujarnya disela-sela tawa.

“Lucu sih lucu tapi najis kan La, harus cuci pake lumpur nih” Aku nyaris saja mengelapkan tanganku pada baju Ella, jika saja gadis itu tidak cepat menghindar.

“Ih apaan sih lo, buruan cuci tar telat nyampe bandaranya”

“Tenang aja La, dari sini ke bandara paling lama juga 45 menit”, balasku sambil mencuci tangan di tepian kolam. Tapi Ella langsung menyamber tanganku dan menarikku berlari.

            Lagi-lagi di luar prediksi. Aku kira Kuala Lumpur tidak mengenal macet. Ternyata perjalanan menuju bandara LCCT menjadi perjalanan yang cukup panjang dan mendebarkan. Aku melihat wajah Ella yang campur aduk, antara cemas, kesal, dan ingin buang air kecil. Aku sedikit merasa bersalah, karena bagaimana pun aku memiliki andil yang sangat besar dalam keterlambatan ini.

            “Gara-gara lu sih, Mi” Ella menyalahkan aku.

            “Udah aku ajak balik dari tadi eh kekeuh masih pengen diem disana pake kenalan segala lagi sama anjing. Udah gak akan keburu ini mah” Gerutu Ella.

            “Idih lu juga kelamaan ketawa tadi, udah berdoa aja mudah-mudahan masih sempet, ada 15 menit lagi”

            “Udah positif gak akan keburu”

            “Ya udah sih mau gimana lagi La, mana aku tahu bakal macet gini”, hanya itu kalimat pembelaan yang keluar dari mulutku dan disambut delikan tajam dari Ella. Kakinya seperti sudah gatal ingin cepat berlari, dan begitu pintu bis terbuka secepat kilat aku dan Ella melesat menuju loket maskapai.

            Tidak ada harapan.

***

            Selalu ada harapan bagi orang yang tidak putus asa. Begitulah kata-kata yang diucapkan gadis berkerudung merah muda itu kepada teman di sampingnya yang tidak kalah lusuh dan kucelnya dengan dia. Bagaimana tidak, mereka berdua dari pagi mengitari kota Sukabumi, mencari lahan kosong yang disewakan dengan harga murah untuk memarkirkan gerobak makanan dagangan mereka. Dan tempat yang sudah mereka incar dari beberapa hari yang lalu ternyata sudah terisi dan penuh. Tapi semangat dan tekad mereka belum padam. Di tengah panas terik matahari mereka melanjutkan pencarian.

            Arumi Sashmita, nama gadis yang dekil, kumel, kucel, dan mengkilap itu. Gadis yang dari tadi tidak berhenti menyemangati teman seperjuangannya agar tidak menyerah. Kerudung merah mudanya sesekali dijadikannya lap keringat, praktis.

            “Kemana lagi kita cari, Mi?” Tanya Nina lemah. Orang yang ditanya bukan menjawab malah mengerutkan dahi, otaknya berpikir dengan keras.

            “Hmmm, kalau di depan bimbelan Primagama atau GO, gimana?”

            “Di pinggir jalan gitu?” Nina bertanya balik.

            “Ribet ya?” Arumi balik bertanya.

            “Kalau di kantin sekolah?” Arumi tidak kehabisan akal, semua tempat dijadikan opsi tapi Nina menggeleng.

            “Kantin sekolah kan udah penuh juga”

            “Hmmm, di depan bimbelan Smart Student, gimana? Itu kan punya kakak kelas kita” Kali ini pilihan alternatif yang diucapkan Arumi terlihat seperti bohlam yang menyala terang.

            “Boleh juga, Mi. Lumayan ada space kan di depannya” Wajah Nina kembali berwarna. Tapi dia tidak kenal dengan kakak kelas pemilik bimbingan belajar itu, begitu pula dengan Arumi.

            “Adik kamu waktu kelas tiga bimbel disana kan, Na? Pasti kenal dong”

            “Iya sih, Icha malah dulu jadi salah satu murid kesayangannya”

            “Nah tuh, kita minta aja dikenalin terus SKSD deh”, usul Arumi dengan antusias.

            “Tapi si Icha lagi sibuk-sibuknya kuliah, pulang aja jarang”, Nina memainkan tali tas selempangnya sambil terus berpikir.

            “Palingan kita minta nomornya terus janjian buat ketemu, kan enaknya ngomong langsung”, sambung Nina yang dibalas anggukan oleh Arumi. Akhirnya pencarian hari itu berakhir dengan kesepakatan keduanya untuk menghubungi dan sok kenal dengan pemilik Smart Student. Kedua sahabat itu pulang dengan wajah yang sumringah. Ada secercah harapan di depan sana. Sekecil apapun akan mereka kejar.

Arumi berjalan dari depan komplek perumahannya menuju rumah. Tidak terlalu jauh, tapi cukup membuatnya gerah. Bukan oleh cuaca yang panas, tapi lirikan tetangga-tetangganya yang diartikan seperti cibiran walaupun tidak diucapkan. Atau hanya perasaannya saja. Dia tetap berjalan dengan lurus dan cepat, batinnya bertekad. Lihat saja nanti, aku akan menjadi orang yang sukses.

 Apa yang salah dengan jalan hidup yang dipilihnya. Bukankah orang-orang sukses yang setiap hari nongol di televisi dan diperbincangkan di banyak media sosial juga mengawali usahanya dari nol. From zero to hero, karena itulah makanya kisah mereka menjadi inspirasi dan laku di pasar. Pikiran-pikiran positif terus merusaha ditanamkan di benaknya. Jangan menyerah Arumi, buktikan bahwa mimpi bukan hanya milik segelintir orang. Mimpi adalah milik dan hak setiap manusia.

Mungkin bagi kebanyakan orang apa yang dilakukan Arumi adalah hal yang gila. Keluar dari pekerjaan tetapnya sebagai audit keuangan di sebuah perusahaan bonafid dengan gaji yang terhitung besar untuk fresh graduated seperti dia. Seorang mantan karyawati yang bekerja di salah satu gedung pencakar langit di ibu kota dengan ruang kerja full AC dan karier yang cemerlang sekarang luntang lantung di jalanan mencari sepetak tempat untuk menyimpan gerobak. Apa yang sebenarnya ada di kepala gadis berusia 22 tahun itu hingga nekat mengambil keputusan yang ekstrem.

Kasian orang tuanya capek-capek nyekolahin dia sampai sarjana eh bukannya membanggakan malah jadi pedagang.

Kalau cuma dagang mah gak usah sekolah tinggi-tinggi, lulusan SD juga bisa. Sayang tuh sama ijazah.

Gadis bodoh! Udah dikasih enak malah nyari yang susah, gak bersyukur tuh namanya!

Seperti bisa membaca pikiran orang-orang di sekitarnya. Arumi menutup telinganya rapat-rapat dan memantapkan hatinya. Rasulullah pun seorang pedagang. Rasulullah pun sering dihina. Profesi pedagang masih dinilai sebelah mata oleh kebanyakan orang. Biasanya pedagang itu profesi yang kepepet karena tidak diterima kerja dimana-mana. Lain halnya dengan pengusaha. Orang kalau sudah mendengar kata pengusaha langsung terlintas gambaran kaum borjuis yang menjadi incaran para artis. Padahal pengusaha pun berawal dari berdagang dan Arumi paham betul. Dia memiliki mimpi yang besar dan tujuan yang mulia. Semoga Allah memudahkan jalannya.

Begitu mengucap salam dan masuk ke dalam rumah, dikecupnya tangan kedua orang tuanya. Ada perih yang menyelinap saat memandang wajah bapaknya. Bapak pernah berkata pada ibunya dan ibunya menyampaikan padanya, bahwa bapak kecewa dengan keputusannya. Bapak sudah bangga bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana dan begitu lulus langsung diterima kerja, tidak tanggung-tanggung langsung mendapat jabatan middle class merupakan kebanggaan yang luar biasa bagi bapak. Tapi sekarang bapak malu dan jarang keluar rumah. Malu karena anaknya yang dibanggakan itu hanya berjualan di gerobak.

Tapi bapak juga salah, dagang di gerobakan tidak sehina itu. Mungkin awalnya satu gerobak, tapi kalau laku akan jadi dua, tiga, empat, bahkan ribuan seperti Hendy Setiono, raja kebab Turki. Hendy pun membangun kerajaannya dari satu gerobak, dengan keyakinan dan kegigihan serta pantang menyerah, akhirnya bisnisnya bisa sesukses sekarang. Anggap saja anaknya sedang membangun hal yang sama.  

           Arumi menahan luka di hatinya. Tidak apa-apa, semakin berat berarti jalan yang ditempuhnya sudah benar. Semakin banyak cobaan berarti kesuksesan semakin dekat. Asalkan yakin bahwa Allah akan selalu menolong hambanya yang berharap. Lagipula apa yang dilakukan Arumi semata-mata karena rasa cinta kepada Rabbnya. Niat yang baik pasti akan berbuah manis.

 

==BERSAMBUNG KE PART 1-3==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar