LANJUTAN ....
Ella
menghampiriku setelah puas berkeliling dan foto-foto. Keheranan tampak jelas di
wajah Ella ketika melihat aku tersenyum, sendiri. Ella mengedarkan pandangan
mencari pada siapa aku memberi senyum dan akhirnya menerima kenyataan bahwa
temannya yang satu ini memang sedikit berbeda dari yang lain. Sudah hampir dua
jam berlalu dan satu jam lagi pesawat yang sama akan membawaku pulang. Ah pulang,
kata yang menjadi momok bagiku sejak beberapa waktu yang lalu. Kemana aku harus pulang? Belum sempat otakku
berpikir, Ella tiba-tiba cekikikan.
“Belum ada sehari lu udah
dapet fans, tuh” Ella menunjuk ke
arahku dengan dagunya. Aku mengernyitkan dahi. Wah sakit nih si Ella. Kemudian ada sesuatu yang dingin, basah, dan
sedikit kasar menjilat tanganku yang menganggur. Spontan aku langsung berdiri
dan setengah berteriak, setengah mengutuk. Anjing
sialan!
Anjing pudle kecil yang sekilas mirip kambing
itu masih menjulurkan lidahnya ke arahku. Bahkan anjing pun mencibirku. Aku
menatapnya tajam dan Ella yang memperhatikan kami berdua semakin keras tertawa.
“Jangan dipelototin gitu, Mi, anjingnya
kasian. Liat lucu gitu ih” ujarnya disela-sela tawa.
“Lucu sih lucu tapi
najis kan La, harus cuci pake lumpur nih” Aku nyaris saja mengelapkan tanganku
pada baju Ella, jika saja gadis itu tidak cepat menghindar.
“Ih apaan sih lo,
buruan cuci tar telat nyampe bandaranya”
“Tenang aja La, dari
sini ke bandara paling lama juga 45 menit”, balasku sambil mencuci tangan di
tepian kolam. Tapi Ella langsung menyamber tanganku dan menarikku berlari.
Lagi-lagi di
luar prediksi. Aku kira Kuala Lumpur tidak mengenal macet. Ternyata perjalanan
menuju bandara LCCT menjadi perjalanan yang cukup panjang dan mendebarkan. Aku
melihat wajah Ella yang campur aduk, antara cemas, kesal, dan ingin buang air
kecil. Aku sedikit merasa bersalah, karena bagaimana pun aku memiliki andil
yang sangat besar dalam keterlambatan ini.
“Gara-gara lu
sih, Mi” Ella menyalahkan aku.
“Udah aku
ajak balik dari tadi eh kekeuh masih
pengen diem disana pake kenalan segala lagi sama anjing. Udah gak akan keburu
ini mah” Gerutu Ella.
“Idih lu juga
kelamaan ketawa tadi, udah berdoa aja mudah-mudahan masih sempet, ada 15 menit
lagi”
“Udah positif
gak akan keburu”
“Ya udah sih
mau gimana lagi La, mana aku tahu bakal macet gini”, hanya itu kalimat
pembelaan yang keluar dari mulutku dan disambut delikan tajam dari Ella.
Kakinya seperti sudah gatal ingin cepat berlari, dan begitu pintu bis terbuka secepat
kilat aku dan Ella melesat menuju loket maskapai.
Tidak ada
harapan.
***
Selalu ada
harapan bagi orang yang tidak putus asa. Begitulah kata-kata yang diucapkan
gadis berkerudung merah muda itu kepada teman di sampingnya yang tidak kalah
lusuh dan kucelnya dengan dia. Bagaimana tidak, mereka berdua dari pagi
mengitari kota Sukabumi, mencari lahan kosong yang disewakan dengan harga murah
untuk memarkirkan gerobak makanan dagangan mereka. Dan tempat yang sudah mereka
incar dari beberapa hari yang lalu ternyata sudah terisi dan penuh. Tapi
semangat dan tekad mereka belum padam. Di tengah panas terik matahari mereka
melanjutkan pencarian.
Arumi
Sashmita, nama gadis yang dekil, kumel, kucel, dan mengkilap itu. Gadis yang
dari tadi tidak berhenti menyemangati teman seperjuangannya agar tidak
menyerah. Kerudung merah mudanya sesekali dijadikannya lap keringat, praktis.
“Kemana lagi
kita cari, Mi?” Tanya Nina lemah. Orang yang ditanya bukan menjawab malah
mengerutkan dahi, otaknya berpikir dengan keras.
“Hmmm, kalau
di depan bimbelan Primagama atau GO, gimana?”
“Di pinggir
jalan gitu?” Nina bertanya balik.
“Ribet ya?” Arumi
balik bertanya.
“Kalau di
kantin sekolah?” Arumi tidak kehabisan akal, semua tempat dijadikan opsi tapi Nina
menggeleng.
“Kantin
sekolah kan udah penuh juga”
“Hmmm, di
depan bimbelan Smart Student, gimana? Itu kan punya kakak kelas kita” Kali ini
pilihan alternatif yang diucapkan Arumi terlihat seperti bohlam yang menyala
terang.
“Boleh juga, Mi.
Lumayan ada space kan di depannya”
Wajah Nina kembali berwarna. Tapi dia tidak kenal dengan kakak kelas pemilik
bimbingan belajar itu, begitu pula dengan Arumi.
“Adik kamu
waktu kelas tiga bimbel disana kan, Na? Pasti kenal dong”
“Iya sih,
Icha malah dulu jadi salah satu murid kesayangannya”
“Nah tuh,
kita minta aja dikenalin terus SKSD deh”, usul Arumi dengan antusias.
“Tapi si Icha
lagi sibuk-sibuknya kuliah, pulang aja jarang”, Nina memainkan tali tas selempangnya
sambil terus berpikir.
“Palingan
kita minta nomornya terus janjian buat ketemu, kan enaknya ngomong langsung”,
sambung Nina yang dibalas anggukan oleh Arumi. Akhirnya pencarian hari itu
berakhir dengan kesepakatan keduanya untuk menghubungi dan sok kenal dengan pemilik Smart Student. Kedua sahabat itu pulang
dengan wajah yang sumringah. Ada secercah harapan di depan sana. Sekecil apapun
akan mereka kejar.
Arumi berjalan dari
depan komplek perumahannya menuju rumah. Tidak terlalu jauh, tapi cukup
membuatnya gerah. Bukan oleh cuaca yang panas, tapi lirikan
tetangga-tetangganya yang diartikan seperti cibiran walaupun tidak diucapkan.
Atau hanya perasaannya saja. Dia tetap berjalan dengan lurus dan cepat,
batinnya bertekad. Lihat saja nanti, aku
akan menjadi orang yang sukses.
Apa yang salah dengan jalan hidup yang
dipilihnya. Bukankah orang-orang sukses yang setiap hari nongol di televisi dan
diperbincangkan di banyak media sosial juga mengawali usahanya dari nol. From zero to hero, karena itulah makanya
kisah mereka menjadi inspirasi dan laku di pasar. Pikiran-pikiran positif terus
merusaha ditanamkan di benaknya. Jangan
menyerah Arumi, buktikan bahwa mimpi bukan hanya milik segelintir orang. Mimpi
adalah milik dan hak setiap manusia.
Mungkin bagi
kebanyakan orang apa yang dilakukan Arumi adalah hal yang gila. Keluar dari
pekerjaan tetapnya sebagai audit keuangan di sebuah perusahaan bonafid dengan gaji yang terhitung besar
untuk fresh graduated seperti dia.
Seorang mantan karyawati yang bekerja di salah satu gedung pencakar langit di
ibu kota dengan ruang kerja full AC dan
karier yang cemerlang sekarang luntang lantung di jalanan mencari sepetak
tempat untuk menyimpan gerobak. Apa yang sebenarnya ada di kepala gadis berusia
22 tahun itu hingga nekat mengambil keputusan yang ekstrem.
Kasian orang tuanya capek-capek nyekolahin dia sampai sarjana
eh bukannya membanggakan malah jadi pedagang.
Kalau cuma dagang mah gak usah sekolah tinggi-tinggi, lulusan
SD juga bisa. Sayang tuh sama ijazah.
Gadis bodoh! Udah dikasih enak malah nyari yang susah, gak
bersyukur tuh namanya!
Seperti bisa membaca
pikiran orang-orang di sekitarnya. Arumi menutup telinganya rapat-rapat dan
memantapkan hatinya. Rasulullah pun seorang pedagang. Rasulullah pun sering
dihina. Profesi pedagang masih dinilai sebelah mata oleh kebanyakan orang.
Biasanya pedagang itu profesi yang kepepet karena tidak diterima kerja
dimana-mana. Lain halnya dengan pengusaha. Orang kalau sudah mendengar kata
pengusaha langsung terlintas gambaran kaum borjuis
yang menjadi incaran para artis. Padahal pengusaha pun berawal dari
berdagang dan Arumi paham betul. Dia memiliki mimpi yang besar dan tujuan yang
mulia. Semoga Allah memudahkan jalannya.
Begitu mengucap salam
dan masuk ke dalam rumah, dikecupnya tangan kedua orang tuanya. Ada perih yang
menyelinap saat memandang wajah bapaknya. Bapak pernah berkata pada ibunya dan
ibunya menyampaikan padanya, bahwa bapak kecewa dengan keputusannya. Bapak sudah
bangga bisa menyekolahkan anaknya sampai sarjana dan begitu lulus langsung
diterima kerja, tidak tanggung-tanggung langsung mendapat jabatan middle class merupakan kebanggaan yang
luar biasa bagi bapak. Tapi sekarang bapak malu dan jarang keluar rumah. Malu
karena anaknya yang dibanggakan itu hanya berjualan di gerobak.
Tapi bapak juga
salah, dagang di gerobakan tidak sehina itu. Mungkin awalnya satu gerobak, tapi
kalau laku akan jadi dua, tiga, empat, bahkan ribuan seperti Hendy Setiono,
raja kebab Turki. Hendy pun membangun kerajaannya dari satu gerobak, dengan
keyakinan dan kegigihan serta pantang menyerah, akhirnya bisnisnya bisa
sesukses sekarang. Anggap saja anaknya sedang membangun hal yang sama.
Arumi menahan
luka di hatinya. Tidak apa-apa, semakin berat berarti jalan yang ditempuhnya
sudah benar. Semakin banyak cobaan berarti kesuksesan semakin dekat. Asalkan yakin
bahwa Allah akan selalu menolong hambanya yang berharap. Lagipula apa yang
dilakukan Arumi semata-mata karena rasa cinta kepada Rabbnya. Niat yang baik
pasti akan berbuah manis.
==BERSAMBUNG KE PART 1-3==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar