Senin, 13 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 1-3

LANJUTAN ....

***

            Sudah tiga hari sejak Nina mengirim sms pada Kang Irwan, pemilik Smart Student tapi belum ada balasan. Kedua gadis itu tidak putus asa. Setiap hari mereka kembali berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Harapan yang kian menipis terus disiram dan dipupuk agar tetap hidup. Nina sedikit lebih pesimis dan penakut sejak dulu. Tapi Arumi dengan semangat 45 mencoba mengobarkan kembali semangat Nina. Dia tidak mau Nina sampai menyerah, dia tidak mau kehilangan Nina. Bagaimanapun dia membutuhkan teman seperjuangan.

            Telepon genggam Nina berbunyi, ada pesan yang masuk dan langsung dibacanya. Mata Nina terbelalak kaget begitu tahu kalau pesan itu adalah jawaban yang sedang mereka tunggu. Kang Irwan setuju untuk bertemu dengan mereka.

            “Emang kamu smsnya gimana Na?” tanya Arumi.

            “Kang, kita mau sewa tempat di Smart Student, gitu?” Jawaban Nina lebih terdengar seperti pertanyaan. Arumi langsung meringis.

            “Ya udahlah, bismillah aja. Yuk kita temui sekarang” ajak Arumi. Mereka berdua mengumpulkan segenap keberanian dan pergi ke tempat bimbelan itu.

            Kang Irwan, pria jangkung dengan senyum yang menawan, pintar, lulusan ITB. Kakak kelas 15 tahun di atas Arumi dan Nina. Mereka berdua tidak mengenalnya, bahkan bertatap muka secara langsung pun belum pernah. Selama ini mereka tahu tentang Kang Irwan dari teman-temannya yang dulu bimbel di Smart Student. Katanya Kang Irwan ganteng, baik, dan soleh. Jika benar seperti itu, mungkin peluang mereka diizinkan mangkal di depan tempat bimbelnya semakin besar.

            Kedua sahabat itu merasa kikuk saat dipersilahkan masuk ke ruang kerja Kang Irwan. Nekat dan menjual nama Icha menjadi modal mereka. Yah, ternyata Kang Irwan masih ingat pada Icha, siswi berprestasi yang sekarang kuliah di Unpad. Awal yang baik untuk memulai percakapan.

            Mereka menjelaskan niat dan tujuan kedatangan, bersyukur sepertinya Kang Irwan tertarik. Bukan dengan dagangan mereka, tapi lebih pada semangat dan keberanian dua gadis itu dalam memilih jalan hidup. Terjadi kesalahpahaman antara mereka, maksud Arumi dan Nina adalah menyewa sedikit tempat untuk menyimpan gerobak mereka tapi Kang Irwan, entah memang sengaja atau keliru. Dia menawarkan tempat yang jauh melebihi harapan Arumi. Sebuah garasi.

            Garasi yang tidak terpakai itu berukuran cukup luas, mungkin sekitar 50 meter persegi ditambah dengan dapur serta kamar mandi di belakangnya. Letak garasi itu bersebelahan dengan ruang mengajar bimbelan. Arumi dan Nina bertukar pandang. Entah harus berkata apa.  Pertama mereka kaget karena langsung diberi kepercayaan oleh orang yang baru dikenalnya satu jam yang lalu. Kedua, berapa harga sewa ruangan sebesar itu di tengah kota Sukabumi?

            “Memang kalian berani sewa berapa?” tanya Kang Irwan dengan tersenyum ramah. Kalkulator di kepala Arumi langsung bekerja hitung-hitungan, sudah tentu ini kesempatan emas jangan sampai terlewatkan. Dari pengalaman Arumi mencari tempat dan sempat sok-sok’an menanyakan harga kios kecil yang disewakan di sekitar sana, harganya mencapai belasan juta. Bisa jadi dengan luas, fasilitas, dan lokasi yang strategis garasi ini bernilai puluhan juta. Arumi menelan ludah.

            “Sudah kalian pakai saja jika sudah sukses baru kalian sewa” ujar Kang Irwan yang sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkan kedua gadis itu.

            “Dan pastikan kalian sukses”, tambah Kang Irwan. Arumi dan Nina hampir saja melompat saking senangnya sekaligus tidak percaya pada pendengaran mereka. Gratis? Tempat yang bisa saja bernilai 20 jutaan ini gratis? Subhanallah. Maha Suci Allah.

            Keajaiban pertama dalam hidup Arumi yang membuat semangat dan kepercayaannya meningkat lebih dari seribu persen. Ingin sekali dia cepat-cepat berlari pulang dan mengabarkan pada mamah dan bapaknya. Bapak lihat kan? Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah asalkan kita yakin pada kekuasaan-Nya dan tidak pernah putus asa, Allah pasti akan memberikan jalannya.

            Entah bagaimana jadinya jika saat itu Arumi menyerah. Saat lahan 2x2 yang ingin disewanya ternyata sudah lebih dahulu diambil orang. Sedih dan kecewa yang dirasakannya saat itu kini berganti dengan kesenangan yang berkali-kali lipat. Memang Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, jauh di atas pengetahuan manusia. Di saat pintu yang satu tertutup mungkin memang bukan itu jalannya, dan Allah sudah menyiapkan pintu yang lain. Itulah pelajaran hidup yang Arumi dapat hari itu. Jangan menyesali apalagi meratapi suatu kemalangan karena mungkin saja kemalangan itu akan mengantarkan pada takdir yang sebenarnya.

            “Nanti detail dan teknisnya kalian bisa mengobrol dengan Teh Ani, istri saya” lanjut Kang Irwan yang sekarang sudah menjelma menjadi malaikat tak bersayap di mata Arumi dan Nina. Kedua gadis itu mengangguk.

            Sebelumnya Arumi dan Nina hanya mempersiapkan dana untuk membuat satu buah gerobak dan menyewa satu petak lahan, sama sekali tidak terpikirkan untuk membuat sebuah mini cafe. Seperti biasa, dengan modal nekat dan kepercayaan diri yang tinggi, akhirnya Arumi membobol seluruh sisa tabungannya yang separuhnya sudah dia habiskan untuk memancing rezeki. Sesuai anjuran Rasul yang ramai dikampanyekan para ustad di televisi.

Lahaula Walakuwwata Illa billah.

 

==PART 1 END==

==BERSAMBUNG KE PART 2-1==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar