LANJUTAN ....
***
Sudah tiga
hari sejak Nina mengirim sms pada Kang Irwan, pemilik Smart Student tapi belum
ada balasan. Kedua gadis itu tidak putus asa. Setiap hari mereka kembali
berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Harapan yang kian menipis
terus disiram dan dipupuk agar tetap hidup. Nina sedikit lebih pesimis dan
penakut sejak dulu. Tapi Arumi dengan semangat 45 mencoba mengobarkan kembali
semangat Nina. Dia tidak mau Nina sampai menyerah, dia tidak mau kehilangan
Nina. Bagaimanapun dia membutuhkan teman seperjuangan.
Telepon
genggam Nina berbunyi, ada pesan yang masuk dan langsung dibacanya. Mata Nina
terbelalak kaget begitu tahu kalau pesan itu adalah jawaban yang sedang mereka
tunggu. Kang Irwan setuju untuk bertemu dengan mereka.
“Emang kamu
smsnya gimana Na?” tanya Arumi.
“Kang, kita
mau sewa tempat di Smart Student, gitu?” Jawaban Nina lebih terdengar seperti
pertanyaan. Arumi langsung meringis.
“Ya udahlah,
bismillah aja. Yuk kita temui sekarang” ajak Arumi. Mereka berdua mengumpulkan
segenap keberanian dan pergi ke tempat bimbelan itu.
Kang Irwan,
pria jangkung dengan senyum yang menawan, pintar, lulusan ITB. Kakak kelas 15
tahun di atas Arumi dan Nina. Mereka berdua tidak mengenalnya, bahkan bertatap
muka secara langsung pun belum pernah. Selama ini mereka tahu tentang Kang
Irwan dari teman-temannya yang dulu bimbel di Smart Student. Katanya Kang Irwan
ganteng, baik, dan soleh. Jika benar seperti itu, mungkin peluang mereka
diizinkan mangkal di depan tempat bimbelnya semakin besar.
Kedua sahabat
itu merasa kikuk saat dipersilahkan masuk ke ruang kerja Kang Irwan. Nekat dan
menjual nama Icha menjadi modal mereka. Yah, ternyata Kang Irwan masih ingat
pada Icha, siswi berprestasi yang sekarang kuliah di Unpad. Awal yang baik
untuk memulai percakapan.
Mereka
menjelaskan niat dan tujuan kedatangan, bersyukur sepertinya Kang Irwan
tertarik. Bukan dengan dagangan mereka, tapi lebih pada semangat dan keberanian
dua gadis itu dalam memilih jalan hidup. Terjadi kesalahpahaman antara mereka,
maksud Arumi dan Nina adalah menyewa sedikit tempat untuk menyimpan gerobak
mereka tapi Kang Irwan, entah memang sengaja atau keliru. Dia menawarkan tempat
yang jauh melebihi harapan Arumi. Sebuah garasi.
Garasi yang
tidak terpakai itu berukuran cukup luas, mungkin sekitar 50 meter persegi
ditambah dengan dapur serta kamar mandi di belakangnya. Letak garasi itu
bersebelahan dengan ruang mengajar bimbelan. Arumi dan Nina bertukar pandang.
Entah harus berkata apa. Pertama mereka
kaget karena langsung diberi kepercayaan oleh orang yang baru dikenalnya satu
jam yang lalu. Kedua, berapa harga sewa ruangan sebesar itu di tengah kota
Sukabumi?
“Memang
kalian berani sewa berapa?” tanya Kang Irwan dengan tersenyum ramah. Kalkulator
di kepala Arumi langsung bekerja hitung-hitungan, sudah tentu ini kesempatan
emas jangan sampai terlewatkan. Dari pengalaman Arumi mencari tempat dan sempat
sok-sok’an menanyakan harga kios kecil yang disewakan di sekitar sana, harganya
mencapai belasan juta. Bisa jadi dengan luas, fasilitas, dan lokasi yang
strategis garasi ini bernilai puluhan juta. Arumi menelan ludah.
“Sudah kalian
pakai saja jika sudah sukses baru kalian sewa” ujar Kang Irwan yang sepertinya
tahu apa yang sedang dipikirkan kedua gadis itu.
“Dan pastikan
kalian sukses”, tambah Kang Irwan. Arumi dan Nina hampir saja melompat saking
senangnya sekaligus tidak percaya pada pendengaran mereka. Gratis? Tempat yang bisa saja bernilai 20 jutaan ini gratis?
Subhanallah. Maha Suci Allah.
Keajaiban
pertama dalam hidup Arumi yang membuat semangat dan kepercayaannya meningkat
lebih dari seribu persen. Ingin sekali dia cepat-cepat berlari pulang dan
mengabarkan pada mamah dan bapaknya. Bapak
lihat kan? Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah asalkan kita yakin pada
kekuasaan-Nya dan tidak pernah putus asa, Allah pasti akan memberikan jalannya.
Entah
bagaimana jadinya jika saat itu Arumi menyerah. Saat lahan 2x2 yang ingin
disewanya ternyata sudah lebih dahulu diambil orang. Sedih dan kecewa yang
dirasakannya saat itu kini berganti dengan kesenangan yang berkali-kali lipat.
Memang Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, jauh di atas pengetahuan
manusia. Di saat pintu yang satu tertutup mungkin memang bukan itu jalannya,
dan Allah sudah menyiapkan pintu yang lain. Itulah pelajaran hidup yang Arumi
dapat hari itu. Jangan menyesali apalagi meratapi suatu kemalangan karena
mungkin saja kemalangan itu akan mengantarkan pada takdir yang sebenarnya.
“Nanti
detail dan teknisnya kalian bisa mengobrol dengan Teh Ani, istri saya” lanjut
Kang Irwan yang sekarang sudah menjelma menjadi malaikat tak bersayap di mata Arumi
dan Nina. Kedua gadis itu mengangguk.
Sebelumnya Arumi
dan Nina hanya mempersiapkan dana untuk membuat satu buah gerobak dan menyewa
satu petak lahan, sama sekali tidak terpikirkan untuk membuat sebuah mini cafe.
Seperti biasa, dengan modal nekat dan kepercayaan diri yang tinggi, akhirnya Arumi
membobol seluruh sisa tabungannya yang separuhnya sudah dia habiskan untuk
memancing rezeki. Sesuai anjuran Rasul yang ramai dikampanyekan para ustad di
televisi.
Lahaula Walakuwwata Illa billah.
==PART 1 END==
==BERSAMBUNG KE PART 2-1==
Tidak ada komentar:
Posting Komentar