Senin, 13 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 1-1

SATU

“You never too old too set another goal or

Too dream a new dream”  -C.S Lewis-

 

Kurang dari lima menit pesawat ini akan segera lepas landas. Bandara adalah hal kedua yang aku sukai, setelah drama Korea. Berada dalam pesawat yang akan lepas landas sambil memperhatikan kesibukan di area bandara dari balik jendela pesawat memiliki keasikan tersendiri buatku.

 

Pesawat-pesawat berbadan bongsor hilir mudik membawa penumpang ke tempat tujuan mereka. Tempat yang tentunya sangat jauh hingga akan memakan waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan  jika ditempuh dengan jalan lain. Mungkin juga, tempat itu adalah negeri impian.

 

            London, kota dengan kastil-kastil tua bak negeri dongeng. Kotanya Harry Potter, penuh keajaiban, penuh keindahan. Tak terbayang bagaimana megahnya Westminster Palace yang berdiri kokoh di samping sungai Thames, yang kini digunakan sebagai gedung parlemen Inggris.

Cantiknya London Bridges di malam hari yang gemerlap penuh lampu, membuat air sungai di bawahnya tampak berkilauan. Belum lagi desa-desa di Inggris sana yang tampak seperti dalam film-film fantasi. Bibury, Castle Combe, Clovelly, Dunster, Edensor, menyebut namanya saja sudah membuat aku melayang. Terbayang padang rumput yang terhampar luas, domba-domba gemuk yang sedang merumput, jalan-jalan kecil khas pedesaan yang indah, dan rumah-rumah gaya victorian dengan cerobong asap yang mengepul. Membayangkan bagaimana orang-orang di dalamnya berkumpul dekat perapian dengan secangkir teh dan roti membuat hatiku ikut menghangat.

Ah Inggris memang sudah menjadi negeri impianku sejak aku bisa mengkhayal. Namanya sudah nongkrong di daftar keinginanku sejak aku mulai bisa menulis.

            Dan kini, pesawatku sudah mengudara. Membawa aku pergi beratus-ratus kilometer dari negeri kelahiranku. Seharusnya lama perjalanan memakan waktu hingga 15 jam tapi pramugari itu bilang 1 jam 40 menit.  Tidak, pramugari itu tidak sedang ngelindur. Tidak, dia juga tidak sedang mabok apalagi menggunakan obat-obatan terlarang. Dia sehat wal’afiat. Aku yang ngelindur. Takdir sialan itu memangkas impian 15 jamku sampai hanya tersisa 1 jam 40 menit. Menuju Kuala Lumpur.

            Cahaya lampu dari kota Kuala Lumpur sudah terlihat. Tidak lama lagi pesawat yang gagal menerbangkan aku selama 15 jam itu akan mendarat. Aku membangunkan Ella, teman yang mendadak aku sadari ternyata ada di sebelahku dan terabaikan. Ella sepertinya tidak benar-benar tidur, dia tidur ayam mungkin karena kesal juga.

            “Udah sampai yah?” tanya Ella pura-pura linglung.

            “Iya, tuh udah keliatan” aku menunjuk jendela mungil di sampingku.

            “Oke, 26 hours lost in Malaysia begin!”

            Dua puluh enam jam. Bener kok, kamu gak salah baca. Memang rencana aku dan Ella hanya 26 jam di Malaysia. Liburan singkat yang teramat singkat. Kami sampai seharusnya jam 8 malam tapi karena ada perubahan jadwal mendadak dari pihak maskapai, keberangkatan digeser 2 jam later. Jadi lebih tepatnya 24 jam. Sialnya, jadwal kepulangan kami pun digeser 2 jam earlier. Jadi lebih tepatnya lagi 22 hours lost in Malaysia. Aku mengoreksi perkataan Ella dan membuat wajahnya sedikit menekuk.

            Well, kita kehilangan empat jam yang berharga hanya karena jadwal pesawat yang tidak tepat waktu”  

            “Protes aja lu, udah untung dikasih murah” Ucapanku itu tidak hanya membuat wajah Ella menekuk tapi bibirnya pun ikut mengeriting.

            Langit Kuala Lumpur malam itu sedikit mendung, landasan pesawat yang basah menjadi saksi bahwa sepertinya sebelum kami mendarat hujan sudah mengguyur negeri Upin Ipin ini. Aku dan Ella mengikuti rombongan yang turun dari pesawat dan menuju keluar bandara. Rombongan itu didominasi oleh orang Indonesia, ternyata banyak juga yah warga Indonesia yang bermain ke Malaysia, pantas saja nilai tukar Ringgit menguat terhadap Rupiah.         

            “So, where’re we going?” tanyaku sok Inggris.

            “Bukit Bintang” jawab Ella singkat dan mantap.

            “Penginapan yang udah kamu booked di sekitar sana?”

            “Ya iyalah kalau enggak ngapain kita ke sono”, ingin aku sumpal mulutnya yang songong itu. Untuk menuju Bukit Bintang dari bandara harus terlebih dahulu naik bis ke KLC, Kuala Lumpur Center, barulah darisana menggunakan monorail. Untungnya, di Kuala Lumpur tengah malam pun masih ramai.

             “Yakin di sekitar sini?” tanyaku setelah satu jam muter-muter Bukit Bintang.

            “Menurut si Mbah Google sih gitu, harusnya ada di deket-deket sini” jawab Ella mulai kehilangan kepercayaan dirinya.

            “Mana? Sejauh mata memandang gak ada yang namanya 101 Magnolia Guest House, penginapan jadi-jadian kali tuh”

            “Udah di DP belum, La?” tanyaku dan Ella menggeleng.

            “Ya udah kita nginep di salah satu penginapan yang kita lewatin tadi ajalah, udah mau jam 1 nih, besok kan kita bergerak dari pagi, La”

            “Iya deh yuk, tapi jangan yang remang-remang”

Akhirnya hal pertama di luar rencana pun terjadi. Alokasi untuk penginapan seharusnya hanya RM 50 berakhir menjadi RM 100 dikarenakan penginapan yang sudah jauh hari dibooking Ella mendadak lenyap ditelan bumi, atau aku dan Ella lah yang tidak mencari di tempat yang benar. Apapun itu, ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, nikmati saja.

             Masih di kawasan Bukit Bintang, namanya Jalan Alor. Di jalan itu kehidupan malam Malaysia bernafas. Menurut informasi yang sudah aku kumpulkan dari internet, disana banyak kedai makanan yang buka sampai subuh, mungkin kalau di Indonesia mirip seperti angkringan bedanya mereka duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan di sepanjang jalan itu. Bagi yang menyukai wisata kuliner seperti aku tentu saja Jalan Alor bagaikan hidden paradise, selain makan juga bisa menikmati suasana malam dengan lampu lampion yang menggantung.

Banyak penduduk sekitar maupun wisatawan yang bercengkrama dan menghabiskan malam bersama teman-temannya. Sungguh sayang untuk dilewatkan terutama bagi kami yang hanya memiliki waktu tidak sampai 24 jam di Malaysia. Tapi apa daya, mata dan kaki yang lelah memaksa kami untuk segera tidur dan hanya melihat sisa-sisa jejak  keramaian di Jalan Alor pada pagi harinya.

            Aku dan Ella memutuskan pergi ke daerah Genting lebih dahulu karena lokasinya yang lumayan cukup jauh dari Kuala Lumpur dan masuk dalam list tempat wajib dikunjungi di Malaysia versiku. Berada di dataran tinggi membuat udara disana sangat sejuk, dinginnya hampir samalah dengan Puncak yang ada di kawasan Bogor.

Tidak perlu mendaki untuk sampai ke resort mewah yang ada di puncak pegunungan, cukup duduk manis di dalam cable car atau kereta gantung sambil menikmati pemandangan alam pegunungan yang menyegarkan mata. Genting Skyway Cable Car ini katanya adalah kereta gantung terpanjang se Asia Tenggara.

            Tidak banyak tempat yang bisa aku kunjungi di Malaysia karena memang objek wisatanya tidak sebanyak Indonesia. Hanya butuh beberapa hari atau beberapa minggulah untuk mengexplore Malaysia, tapi untuk mengexplore Indonesia dengan 17.508 pulau dibutuhkan waktu 500 tahun! Serius. Coba saja bayangkan seberapa luas tanah air yang sering tidak dibanggakan warganya itu.

            Setelah Genting, perjalanan berlanjut ke Batu Cave lalu Pasar Seni untuk membeli sedikit oleh-oleh. Tidak terlalu menarik, biasa saja. Di Tanah Abang pun banyak gantungan kunci atau magnet kulkas dengan icon berbagai negara. Aku hanya membeli beberapa saja yang murah selain tidak mau ribet membawa banyak kantong juga memang aku dan Ella tidak membawa banyak Ringgit. Sebelum terbang ke Malaysia, kami memutuskan harus bisa bertahan hanya dengan 250 RM. Dan diantara semua tempat yang aku kunjungi, destinasi terakhirlah yang menjadi tempat favoritku. Taman Suriah.

            Ada apa di Taman Suriah? Tidak ada apa-apa. Hanya rumput dan kolam dengan latar gedung menara kembar Petronas. Salah satu landmark kebanggaan Malaysia. Tapi inilah yang aku cari. Duduk di pinggir kolam dan termenung, sesekali memperhatikan dancing fountain yang menari-nari dengan lincah di atas air. Rasanya aku sanggup menghabiskan waktu berjam-jam hanya duduk diam seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin beranjak.

            Waktu semakin sore dan taman semakin ramai. Banyak penduduk Kuala Lumpur yang mengajak anaknya bermain di taman itu. Ada juga yang membawa hewan peliharaannya. Aku memperhatikan mereka. Rata-rata dari mereka tidak sendiri dan tidak diam. Minimal duduk sambil mengobrol dengan teman atau keluarganya atau dengan hewannya. Tidak ada yang seperti aku. Tidak ada yang hanya duduk dan melamun. Tidak ada yang merasa sendiri. Di sampingku, Ella sibuk mengetik berita di gadgetnya sebelum berdiri dan bilang mau berkeliling. Untungnya dia sudah tahu tabiatku, jadi palingan dia hanya mendelik dan berlalu.

            Tidak ada seorang pun di taman itu yang mengenalku, kecuali Ella. Aku menarik nafas, merasakan iklim kebebasan. Disini, setidaknya aku bisa menanggalkan jubah kepura-puraan. Rasa lelah yang bukan berasal dari kaki menyergapku dan menjelma menjadi sebulir air di ujung mataku. Aku segera mengusapnya sebelum air mata sialan itu menetes.

Aku tidak ingin kembali, sungguh aku benar-benar tidak ingin kembali. Persetan dengan takdir. Persetan dengan mimpi. Aku tak ubahnya hanya sebuah boneka hidup yang mau tidak mau harus menjalani setiap takdir yang Dia tentukan. Tanpa disadari, secuil senyuman sinis terlukis di wajahku. Miris.

 

==BERSAMBUNG KE PART 1/2



Tidak ada komentar:

Posting Komentar