SATU
“You never too old too set another goal or
Too dream a new dream”
-C.S Lewis-
Kurang dari lima menit pesawat ini akan segera lepas landas.
Bandara adalah hal kedua yang aku sukai, setelah drama Korea. Berada dalam
pesawat yang akan lepas landas sambil memperhatikan kesibukan di area bandara dari
balik jendela pesawat memiliki keasikan tersendiri buatku.
Pesawat-pesawat berbadan bongsor hilir mudik membawa penumpang
ke tempat tujuan mereka. Tempat yang tentunya sangat jauh hingga akan memakan
waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan jika ditempuh dengan jalan lain. Mungkin juga,
tempat itu adalah negeri impian.
London, kota
dengan kastil-kastil tua bak negeri dongeng. Kotanya Harry Potter, penuh keajaiban,
penuh keindahan. Tak terbayang bagaimana megahnya Westminster Palace yang berdiri kokoh di samping sungai Thames,
yang kini digunakan sebagai gedung parlemen Inggris.
Cantiknya London Bridges di malam hari yang
gemerlap penuh lampu, membuat air sungai di bawahnya tampak berkilauan. Belum
lagi desa-desa di Inggris sana yang tampak seperti dalam film-film fantasi. Bibury, Castle Combe, Clovelly, Dunster, Edensor,
menyebut namanya saja sudah membuat aku melayang. Terbayang padang rumput
yang terhampar luas, domba-domba gemuk yang sedang merumput, jalan-jalan kecil
khas pedesaan yang indah, dan rumah-rumah gaya victorian dengan cerobong asap yang mengepul. Membayangkan
bagaimana orang-orang di dalamnya berkumpul dekat perapian dengan secangkir teh
dan roti membuat hatiku ikut menghangat.
Ah Inggris memang
sudah menjadi negeri impianku sejak aku bisa mengkhayal. Namanya sudah
nongkrong di daftar keinginanku sejak aku mulai bisa menulis.
Dan kini,
pesawatku sudah mengudara. Membawa aku pergi beratus-ratus kilometer dari
negeri kelahiranku. Seharusnya lama perjalanan memakan waktu hingga 15 jam tapi
pramugari itu bilang 1 jam 40 menit. Tidak,
pramugari itu tidak sedang ngelindur. Tidak, dia juga tidak sedang mabok
apalagi menggunakan obat-obatan terlarang. Dia sehat wal’afiat. Aku yang
ngelindur. Takdir sialan itu memangkas impian 15 jamku sampai hanya tersisa 1
jam 40 menit. Menuju Kuala Lumpur.
Cahaya lampu
dari kota Kuala Lumpur sudah terlihat. Tidak lama lagi pesawat yang gagal
menerbangkan aku selama 15 jam itu akan mendarat. Aku membangunkan Ella, teman
yang mendadak aku sadari ternyata ada di sebelahku dan terabaikan. Ella
sepertinya tidak benar-benar tidur, dia tidur ayam mungkin karena kesal juga.
“Udah sampai
yah?” tanya Ella pura-pura linglung.
“Iya, tuh
udah keliatan” aku menunjuk jendela mungil di sampingku.
“Oke, 26
hours lost in Malaysia begin!”
Dua puluh
enam jam. Bener kok, kamu gak salah baca. Memang rencana aku dan Ella hanya 26
jam di Malaysia. Liburan singkat yang teramat singkat. Kami sampai seharusnya
jam 8 malam tapi karena ada perubahan jadwal mendadak dari pihak maskapai,
keberangkatan digeser 2 jam later.
Jadi lebih tepatnya 24 jam. Sialnya, jadwal kepulangan kami pun digeser 2 jam earlier. Jadi lebih tepatnya lagi 22 hours lost in Malaysia. Aku mengoreksi
perkataan Ella dan membuat wajahnya sedikit menekuk.
“Well, kita kehilangan empat jam yang
berharga hanya karena jadwal pesawat yang tidak tepat waktu”
“Protes aja
lu, udah untung dikasih murah” Ucapanku itu tidak hanya membuat wajah Ella
menekuk tapi bibirnya pun ikut mengeriting.
Langit Kuala
Lumpur malam itu sedikit mendung, landasan pesawat yang basah menjadi saksi
bahwa sepertinya sebelum kami mendarat hujan sudah mengguyur negeri Upin Ipin
ini. Aku dan Ella mengikuti rombongan yang turun dari pesawat dan menuju keluar
bandara. Rombongan itu didominasi oleh orang Indonesia, ternyata banyak juga
yah warga Indonesia yang bermain ke Malaysia, pantas saja nilai tukar Ringgit
menguat terhadap Rupiah.
“So, where’re we going?” tanyaku sok Inggris.
“Bukit
Bintang” jawab Ella singkat dan mantap.
“Penginapan
yang udah kamu booked di sekitar
sana?”
“Ya iyalah
kalau enggak ngapain kita ke sono”, ingin aku sumpal mulutnya yang songong itu.
Untuk menuju Bukit Bintang dari bandara harus terlebih dahulu naik bis ke KLC, Kuala Lumpur Center, barulah darisana
menggunakan monorail. Untungnya, di Kuala Lumpur tengah malam pun masih ramai.
“Yakin di sekitar sini?” tanyaku setelah satu
jam muter-muter Bukit Bintang.
“Menurut si
Mbah Google sih gitu, harusnya ada di deket-deket sini” jawab Ella mulai
kehilangan kepercayaan dirinya.
“Mana? Sejauh
mata memandang gak ada yang namanya 101 Magnolia Guest House, penginapan
jadi-jadian kali tuh”
“Udah di DP
belum, La?” tanyaku dan Ella menggeleng.
“Ya udah kita
nginep di salah satu penginapan yang kita lewatin tadi ajalah, udah mau jam 1
nih, besok kan kita bergerak dari pagi, La”
“Iya deh yuk,
tapi jangan yang remang-remang”
Akhirnya hal pertama
di luar rencana pun terjadi. Alokasi untuk penginapan seharusnya hanya RM 50
berakhir menjadi RM 100 dikarenakan penginapan yang sudah jauh hari dibooking Ella
mendadak lenyap ditelan bumi, atau aku dan Ella lah yang tidak mencari di
tempat yang benar. Apapun itu, ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, nikmati
saja.
Masih di kawasan Bukit Bintang, namanya Jalan
Alor. Di jalan itu kehidupan malam Malaysia bernafas. Menurut informasi yang
sudah aku kumpulkan dari internet, disana banyak kedai makanan yang buka sampai
subuh, mungkin kalau di Indonesia mirip seperti angkringan bedanya mereka duduk
di kursi-kursi yang sudah disediakan di sepanjang jalan itu. Bagi yang menyukai
wisata kuliner seperti aku tentu saja Jalan Alor bagaikan hidden paradise, selain makan juga bisa menikmati suasana malam
dengan lampu lampion yang menggantung.
Banyak penduduk
sekitar maupun wisatawan yang bercengkrama dan menghabiskan malam bersama
teman-temannya. Sungguh sayang untuk dilewatkan terutama bagi kami yang hanya
memiliki waktu tidak sampai 24 jam di Malaysia. Tapi apa daya, mata dan kaki
yang lelah memaksa kami untuk segera tidur dan hanya melihat sisa-sisa jejak keramaian di Jalan Alor pada pagi harinya.
Aku dan Ella
memutuskan pergi ke daerah Genting lebih dahulu karena lokasinya yang lumayan
cukup jauh dari Kuala Lumpur dan masuk dalam list tempat wajib dikunjungi di Malaysia versiku. Berada di dataran
tinggi membuat udara disana sangat sejuk, dinginnya hampir samalah dengan
Puncak yang ada di kawasan Bogor.
Tidak perlu mendaki
untuk sampai ke resort mewah yang ada di puncak pegunungan, cukup duduk manis
di dalam cable car atau kereta
gantung sambil menikmati pemandangan alam pegunungan yang menyegarkan mata. Genting Skyway Cable Car ini katanya
adalah kereta gantung terpanjang se Asia Tenggara.
Tidak banyak
tempat yang bisa aku kunjungi di Malaysia karena memang objek wisatanya tidak
sebanyak Indonesia. Hanya butuh beberapa hari atau beberapa minggulah untuk
mengexplore Malaysia, tapi untuk mengexplore Indonesia dengan 17.508 pulau
dibutuhkan waktu 500 tahun! Serius. Coba saja bayangkan seberapa luas tanah air
yang sering tidak dibanggakan warganya itu.
Setelah
Genting, perjalanan berlanjut ke Batu Cave lalu Pasar Seni untuk membeli
sedikit oleh-oleh. Tidak terlalu menarik, biasa saja. Di Tanah Abang pun banyak
gantungan kunci atau magnet kulkas dengan icon berbagai negara. Aku hanya
membeli beberapa saja yang murah selain tidak mau ribet membawa banyak kantong
juga memang aku dan Ella tidak membawa banyak Ringgit. Sebelum terbang ke
Malaysia, kami memutuskan harus bisa bertahan hanya dengan 250 RM. Dan diantara
semua tempat yang aku kunjungi, destinasi terakhirlah yang menjadi tempat
favoritku. Taman Suriah.
Ada apa di
Taman Suriah? Tidak ada apa-apa. Hanya rumput dan kolam dengan latar gedung
menara kembar Petronas. Salah satu landmark
kebanggaan Malaysia. Tapi inilah yang aku cari. Duduk di pinggir kolam dan
termenung, sesekali memperhatikan dancing
fountain yang menari-nari dengan lincah di atas air. Rasanya aku sanggup
menghabiskan waktu berjam-jam hanya duduk diam seperti itu. Aku sama sekali
tidak ingin beranjak.
Waktu semakin
sore dan taman semakin ramai. Banyak penduduk Kuala Lumpur yang mengajak
anaknya bermain di taman itu. Ada juga yang membawa hewan peliharaannya. Aku
memperhatikan mereka. Rata-rata dari mereka tidak sendiri dan tidak diam.
Minimal duduk sambil mengobrol dengan teman atau keluarganya atau dengan
hewannya. Tidak ada yang seperti aku. Tidak ada yang hanya duduk dan melamun.
Tidak ada yang merasa sendiri. Di sampingku, Ella sibuk mengetik berita di gadgetnya sebelum berdiri dan bilang mau
berkeliling. Untungnya dia sudah tahu tabiatku, jadi palingan dia hanya
mendelik dan berlalu.
Tidak ada seorang
pun di taman itu yang mengenalku, kecuali Ella. Aku menarik nafas, merasakan
iklim kebebasan. Disini, setidaknya aku bisa menanggalkan jubah kepura-puraan.
Rasa lelah yang bukan berasal dari kaki menyergapku dan menjelma menjadi
sebulir air di ujung mataku. Aku segera mengusapnya sebelum air mata sialan itu
menetes.
Aku tidak ingin
kembali, sungguh aku benar-benar tidak ingin kembali. Persetan dengan takdir.
Persetan dengan mimpi. Aku tak ubahnya hanya sebuah boneka hidup yang mau tidak
mau harus menjalani setiap takdir yang Dia tentukan. Tanpa disadari, secuil
senyuman sinis terlukis di wajahku. Miris.
==BERSAMBUNG KE PART 1/2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar