Senin, 13 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 2-1

DUA

 

                Kadang, kita menemukan sebuah kehangatan dari orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya.  Teman, sahabat, saudara, dan mungkin juga cinta. Merekalah yang menjadikan setiap jengkal tanah yang kupijak terasa seperti rumah. Tidak merasa asing di negeri yang asing. Sebuah rumah yang jauh dari rumah itu sendiri.

                “Keenan, try this out! Gado-gado seadanya”, ucap Mbak Anita, seorang Ibu muda dengan dua orang anak dan sedang mengejar gelar PhD di Universitas Nottingham. Wanita tangguh yang selalu tersenyum namun hatinya merindu. Sudah dua tahun dia tidak pulang ke Indonesia dan meninggalkan kedua orang buah hatinya yang masih kecil-kecil. Selalu ada harga yang harus dibayar demi sebuah cita-cita.

                “Eh coba yang ini dulu,  buatan Ibu loh”, tangan Bu Puspa yang bulat menarikku ke dekat sebuah makanan berwarna coklat mirip makanan kucing yang dihaluskan.

                “Apa nih Bu?” Aku menyomotnya sedikit ke dalam piring kecil yang sudah penuh dengan segala macam makanan khas Nusantara yang dibuat sejadi-jadinya.

                “Masa gak tahu, ini tiwul makanan ndeso, ya walau bentuknya sedikit hancur tapi enak. Haduh jadi kangen si Mbah, kangen kampung. Nanti kalau Keenan sampai ke Indonesia jangan lupa mampir ke Solo yah ketemu sama anak Ibu, udah Ibu kasih liat foto Keenan eh dia langsung mesem-mesem, ganteng katanya mirip Fedy Nuril jadi langsung minta dikenalin, dasar anak jaman sekarang gak ada ayu-ayunya, pokoke Ibu setuju buanget kalau Keenan jadi mantu Ibu”, aku tertawa mendengar ocehan Bu Puspa yang sulit untuk dihentikan.  

                “Apa toh Bu Puspa ini maen nyabet aja, Keenan sudah ditag sama Saya duluan, iya kan Nak Keenan” Seperti tidak mau kalah, Ibu Masyitah dan beberapa ibu-ibu yang lain ikut nimbrung.

                “Ciee yang diperebutin ibu-ibu, mantu idaman nih” Yunita, yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah berada di sampingku.

                “Hussh, udah ah yuk kita kesana aja” Aku dan Yunita diam-diam meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang masih memperdebatkan siapa untuk siapa.

                “Mas, Yuni boleh titip sesuatu yah buat Ibu. Dua hari yang lalu Ibu Yuni ulang tahun. Titip peluk juga ya Mas Keenan, tolong pelukin Ibu Yuni bilang Yuni kangen banget”, ada-ada saja permintaannya tapi tetap aku sanggupi juga.    

Kerindukan kepada sanak keluarga dan tanah air memang menjadi penyakit langganan di kalangan para musafir ini. Banyak dari mereka yang pantang pulang sebelum menyelesaikan studi. Selain pelajar, banyak juga para pekerja yang dengan gigih mengumpulkan pundi-pundi kehidupan untuk dikirim pada keluarganya di tanah air. Aku sendiri dalam 10 tahun ini hanya 3 kali pulang ke Indonesia. Pertama setelah menyelesaikan undergraduated selama tiga tahun di Universitas Birmingham, lalu kembali ke Inggris untuk melanjutkan program master di bidang manajemen bisnis, masih di Universitas yang sama. Kedua saat ayahku menikah lima tahun yang lalu dan terakhir pulang Lebaran tahun kemarin.

               Berkumpul bersama mereka menjadi pengingat akan jati diri sebagai orang Timur agar tidak terbawa arus pergaulan. Setiap hari berinteraksi dengan orang-orang barat dengan segala tingkah laku dan kebiasaan yang jauh dari adat dan norma Islami. Maka setiap bulannya kami ada pengajian rutin yang biasa diadakan di mesjid, mushola, ataupun di rumah anggota. Ada juga acara tahunan yang berlangsung selama dua hari di kota yang terpilih.

Tahun ini acara gathering berlangsung di kota Aberdeen yang merupakan kota terbesar ketiga di Skotlandia setelah Glasgow, dan Edinburgh. Selain untuk mendengarkan tausiyah dari ustad-ustad hebat dan tentunya makan makanan Indonesia, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi, bukan hanya bagi saudara-saudara Muslim yang tinggal di kota yang sama, tapi juga yang berasal dari berbagai tempat di seluruh penjuru Inggris.  Bu Puspa, Mbak Anita, Pak Rozak, Pak Zaki, adalah sebagian orang yang tinggal di Nottingham. Yunita, Yolanda, Mas Teguh, Fahri, Pak Dodi, adalah sebagian kecil dari WNI yang bermukim di Birmingham. Banyak juga yang tinggal di Manchester, Oxfordshire, Newcastle, dan London.

Saat masih menempuh pendidikan master aku tinggal di Birmingham, dan sejak dua tahun yang lalu aku menyewa apartemen kecil di kota London dan bekerja sebagai photografer freelance bagi perusahaan-perusahaan lokal dan mengisi salah satu rubrik bisnis di surat kabar harian London, sebelum ayah memintaku pulang ke Indonesia.

Warga Indonesia khususnya mahasiswa memang paling banyak memilih untuk tinggal di luar London, karena selain biaya hidup di London jauh lebih tinggi dibanding daerah lain di Inggris juga banyak dari mereka yang mencari ketenangan dalam menuntut ilmu.

                “Mas Keenan pulang lagi ndak ke sini?” tanya Yunita. Aku sendiri tidak tahu pasti jawabannya. Inggris sudah menjadi rumah kedua bagiku. Tapi tanggung jawab di tanah air juga sudah menungguku.                            

“Belum tahu Yun, kita lihat saja nanti bagaimana takdir membawaku” Jawabanku meninggalkan raut kesedihan di wajah Yuni. Gadis itu adalah adik tingkatku di University of Birmingham, melanjutkan studi di jurusan yang sama denganku karena itulah dia paling sering berdiskusi dan bertanya padaku. Insyaalloh, jika lancar maka tidak lama lagi dia juga akan segera pulang ke Indonesia.

“Nak Keenan bisa bicara sebentar” Pinta Pak Zaki, ketua perkumpulan Muslim Indonesia di Britania Raya. Aku titipkan piringku pada Yuni dan menghampiri Pak Zaki.

“Jangan lupa undangan dari Ustad Zakariya di Jogja yah Nak Keenan”

“Insyaalloh Pak”

“Beliau sangat ingin bertemu dengan Nak Keenan, sekedar memperpanjang silaturahim saja ya sekaligus mengenalkan dengan putrinya, Aisha”

Aku tersenyum.

 “Terimakasih Pak, tapi saya tidak percaya diri kalau berhadapan sama anak ustad, ilmu agama saya masih sedikit” balasku jujur. Memang benar, aku sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan sehari pun di pesantren mana pun, bahkan pesantren kilat sekalipun. Selama ini pemahamanku tentang agama yang sejak lahir aku anut hanya berasal dari ustad yang dipanggil orang tuaku ke rumah saat aku masih kecil, buku-buku, dan tausiyah yang sering aku dengarkan sejak tinggal di Inggris. Berada di negeri orang selain menuntut kemandirian juga semakin membuatku merasa bergantung pada Rabb semesta alam.

“Tidak ada salahnya toh dicoba, kalau jodoh tidak kemana. Ingat laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan begitu pula sebaliknya. Bapak yakin Nak Keenan seorang laki-laki yang baik” Ucapan yang dikatakan Pak Zaki dengan sorot mata kebapak’an membuatku ingin memeluknya.

“Sayang Bapak tidak punya anak perempuan kalau ada sudah Bapak kawinkan dengan Nak Keenan” tambah Pak Zaki dan kami pun tertawa bersama. Terima kasih Pak Zaki atas semua kehangatan dan tausiyah yang Bapak berikan. Semoga Bapak dapat segera pulang ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarga disana.

Sekilas aku melihat ibu-ibu di belakang punggung Pak Zaki saling melirik dan berbisik. Lucu juga melihat tingkah ibu-ibu dan bapak-bapak ini yang sibuk merekomendasikan anak atau kerabat perempuannya untuk dikenalkan padaku. Umurku memang sudah pas untuk menikah dan keinginan untuk segera membina rumah tangga pun sudah terlintas dalam pikiranku. Hanya saja, masalah jodoh adalah masalah hati dan Allah lah yang menggerakkannya.

Aku pamit lebih dulu dan melanjutkan perjalanan ke kota Edinburgh yang tidak jauh dari Aberdeen, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai kesana menggunakan bus. Aku menyiapkan kamera DSLR kebanggaanku, siap mengabadikan kota cantik itu ke dalam setiap jepretan.

Fotografi adalah hidupku. Memang tidak ada kaitannya dengan studi master yang aku ambil. Menjadi seorang MBA lulusan University of Birmingham dengan predikat summa cumlaude tidak menjadikan mimpiku tersisihkan. Aku mencintai dunia fotografi dan akan tetap seperti itu.

Waktu menunjukkan pukul 4 lewat 15 menit, masih siang untuk ukuran Inggris di awal musim semi. Aku menginjakkan kembali kakiku di Edinburg, salah satu kota favoriteku yang merupakan ibukota Skotlandia. Edinburgh terkenal dengan keindahan alam dan warisan budaya yang mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. 

Banyak turis yang datang ke kota ini, baik dari Britania Raya ataupun negara-negara lain di Eropa. Pertama kali mengunjungi Edinburgh bersama teman-teman fakultasku, Simon Whitewood dan Matthiew Bennet, sekitar tiga tahun yang lalu. Simon dan Matt memang berasal darisana. Mereka mengajak berkeliling kota sekaligus menjadi tour guide. Paham dengan hobiku, mereka memperlihatkan spot-spot terbaik dari kota ini yang akan membuat lensa kameraku jatuh cinta. Salah satunya berada di tengah-tengah city center yang terdiri dari perbukitan, dari sana kita bisa melihat keseluruh area mulai dari museum, castle, taman, dan sungai. Bagiku Edinburgh adalah kota yang romantis dengan bangunan-bangunan tua yang menjulang tinggi, hampir seperti Praha di Cesko, dan tidak kalah romantisnya dengan Paris. Tujuanku datang kembali ke kota ini selain mengunjungi Matthiew juga sebagai perpisahan dengan negeri yang sudah memberikan banyak warna dalam hidupku.

Matt sudah menungguku, duduk di kursi taman depan sebuah coffee shop berkanopi merah dengan aneka macam bunga di pinggiran jendelanya. Dia merentangkan tangannya dan tersenyum menyambutku.

Hi Dude! Welcome back to Edinburgh”.

 

***

                Kosong dan hampa. Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku berdiam diri beberapa saat selepas sholat Isya di prayer room yang ada di bandara. Tidak berdoa, hanya diam. Diam yang kini menjadi hobi baru bagiku. Imanku memang sedang sakit, tapi tidak lantas membuatku meninggalkan kewajiban. Entahlah, mungkin masih tersisa rasa takut pada ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan sholat. Walaupun sekarang aku lebih suka mengakhir-akhirkannya , tak apalah yang penting sholat.

                Apakah aku marah? Tidak. Merasa dipermainkan? Iya. Tapi apa  dayaku? Tidak ada. Terserah Dia mau melakukan apa, tidak akan ada yang bisa melarang. Dia berhak menerbangkanku ke langit ke tujuh sekalipun lalu menghempaskanku ke dasar bumi.

                Aku memejamkan mata dan mereka ulang semua peristiwa. Tiga tahun yang lalu, awal aku memulai segalanya. Dengan rasa optimis dan semangat muda aku melangkahkan kaki di jalan ini. Aku percaya semakin muda aku memulai maka semakin cepat aku bisa menuai hasilnya. Di tahun pertama, aku merasa keberuntungan selalu berpihak padaku kemudian tiba-tiba semua hancur. Aku bangkit lagi, jelas. Beberapa kali pun aku jatuh aku mencoba bangun lagi. Karena aku percaya, semua akan indah pada waktunya. Tapi semangat dan optimisme yang tinggi tidak lantas membuatnya membaik, malah semakin memburuk.

                Hanya Kau tempatku mengadu, tempat aku menyandarkan semua harap dan asa. Aku hanya menangis di hadapanMu, tak pernah sekali pun aku memperlihatkan kelemahanku pada orang-orang, bahkan kedua orang tuaku. Bukan karena aku tidak mau mereka bersedih untukku tapi aku tidak mau mereka menganggapku salah memilih jalan. Aku tidak mau menjilat ludahku sendiri. Jadi bagaimana pun caranya aku harus bertahan di jalan yang sudah aku pilih. Mimpi ini adalah harga mati bagiku.

                Kadang, aku merasa Kau tidak adil. Orang kaya membagikan sebagian rezekinya yang tidak habis-habis kepada anak-anak yatim. Hebat, pahala yang besar bagi mereka. Orang miskin mencuri untuk menyambung hidup. Hina, dosa besar bagi mereka. Tapi bagaimana jika keadaannya dibalik? Orang kaya itu belum tentu tidak akan menjadi pencuri jika terhimpit kemiskinan dan orang miskin itu pun mungkin akan lebih menyantuni anak-anak yatim jika dia punya harta yang berlebih. Lalu, dimana letak keadilannya?

Aku menghela nafas dan menanggalkan mukena, bergegas keluar mushola. Ella sedang tidak sholat jadi dia menungguku di dekat toilet wanita.

Tengah malam, ngemper di lantai bandara LCCT seperti ikan paus yang terdampar. Mengenaskan. Aku menjadikan tas ransel sebagai bantal, dengan kaki diangkat ke atas. Menyusuri setiap halaman web untuk menemukan jalan pulang ke Indonesia dengan ringgit yang sekarat. Di sampingku, Ella menyandarkan punggungnya pada dinding dekat colokan listrik. Handphone dan internet menjadi penyambung nyawa kami, beruntung di bandara tersedia wifi gratis, hal baik pertama yang terjadi.

                Hal baik kedua adalah, sisa roti yang aku bawa dari Indonesia kemaren malam tapi harus aku bagi dengan Ella. Tidak sampai mengganjal perut tapi lumayanlah daripada menggigit jari. Sisa uang di dompetku hanya tinggal RM 52 dan dua lembar uang seratus ribu rupiah. No credit card. Aku rasa Ella pun tidak jauh berbeda denganku, mungkin hanya selisih beberapa ringgit saja, karena Ella lebih bisa menahan diri jika melihat jajanan.

                Anehnya, kejadian ini tidak membuat aku takut atau cemas, justru semakin membuatku excited. Entahlah dengan Ella, karena besok seharusnya dia bekerja. Tidak ada seorang pun teman di Indonesia yang masih hidup di jam segini. BBM, whasap, line, atau apapun tidak ada satu pun yang dibalas. Teman Ella pun begitu, giliran ada satu orang yang balas eh dia tidak bisa menolong karena tabungannya habis. Tidak ada yang bisa membelikan kami tiket pesawat balik ke Indonesia. Petugas loket tadi mengatakan harga tiket kemungkinan RM 330 dan loket pembelian tiket baru dibuka kembali jam 4 nanti.

                Aku mencari alternatif lain yang memungkinkan. “La, gimana kalau kita ke Singapore aja dari sana kita nyebrang ke Batam, nah kalau udah nyampe Batam beli tiketnya gampang”.

                Tatapan Ella seperti mengatakan ‘Kamu gila!’ tapi kemudian keningnya berkerut tanda otaknya sedang menimbang usulanku.

                “Ke Singapore bisa pake Bus dari sini ke Johor Bahru, cuma 26 RM terus nanti nyambung lagi pake Bus juga cuma RM 2, sisanya kita tuker ke dollar singapore buat naek MRT ke Harbourfront, kita naek feri dari sana”, jelasku sambil menunjukkan blog yang aku temukan di internet tentang perjalanan dari Malaysia ke Singapore dan dari Singapore ke Batam.

                Ella masih belum bergeming, tapi aku yakin tawaranku sedikit menarik minatnya.

                “Daripada nungguin disini La, gak bakal ada yang ngasih duit juga lagian sayang aja kemahalan kalau RM 330 itu juga masih perkiraan, bisa aja lebih mahal. Kalau kita ke Singapore dulu mungkin bisa lebih hemat, sekalian nengokin Singapore, La”, aku terus memprovokasinya. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, bahkan aku sendiri tidak mau mengakuinya, aku senang kami tertinggal pesawat. Setidaknya mengulur waktu untuk pulang. Lebih bagus lagi tidak usah pulang sekalian.

                “Emang bus ke Singapore berangkatnya jam berapa?” tanya Ella, matanya membesar tanda mulai excited seperti aku.      

“Kata di blog ini sih jam 12.30 malem”

                Glek, aku menelan ludah. Ella memandangku dan selama seperkian detik kami terdiam saling menatap. Menyadari sesuatu, aku dan Ella langsung berdiri dan berlari menuju pangkalan Bus di luar bandara.

***

==BERSAMBUNG KE PART 2-2==

Tidak ada komentar:

Posting Komentar