Selasa, 14 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 2-2

LANJUTAN ...

 

***

                “What is your planning after back to your country?” tanya seorang sahabat bule di suatu sore yang kering saat dia menemaniku menjejalkan barang-barang titipan ke dalam koper. Barang-barang pribadiku sendiri sudah lebih dulu dikirim ke Jakarta agar aku tidak harus repot membawa banyak barang.

“Build my own studious photo” Jawabku singkat.

“Just it? You can do that in here with me, or if you want a job, it’s easy for you. I mean look at you, you’re smart, briliant”

“Nope, I just want my studious photo come to real”, memang terdengar gila. Sekolah jauh-jauh dan meraih gelar master hanya untuk membangun sebuah studio foto. Tapi apa salahnya? Toh ilmu tidak akan berat untuk dibawa.

“Don’t you ever think to stay here, by my side?” Kimberly masih terus membujukku untuk tinggal di Inggris. Dia mengulurkan tangannya dan segera kuraih.

“I love you, Keenan. Please don’t go” Mata hazelnutnya yang hangat mulai berkaca-kaca. Kim gadis Inggris yang cantik dan sopan. Kami bertemu di London, saat aku menghadiri sebuah pameran photo. Dia mempunyai hobi fotografi sepertiku dan kami sering bertukar cerita. Terkadang pergi bersama ke suatu tempat yang menggelar pameran foto. Banyak hal yang telah kami lalui bersama dan itu menimbulkan perasaan lain di hati Kim untukku.

“And you know I love you too, Kim” balasku.

“As a friend” aku buru-buru menambahkan agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut. Kim mengerti, cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi dia tetap berharap, suatu saat nanti aku bisa memberikan perasaanku padanya. Dia bahkan sudah rela melepas kepercayaannya dan mempelajari agamaku. Sungguh kesempatan yang sangat baik. Tapi aku tidak bisa memanfaatkannya. Jika benar dia tertarik dengan Islam, seharusnya dia belajar mengenalnya dengan tulus bukan karena jatuh cinta padaku. Aku sempat memberikannya buku-buku religi dan kitab suci Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris. Tapi sama sekali tidak pernah disentuhnya. Tak jarang aku memergoki dia meletakkannya di sembarang tempat. Hal itu sedikitnya memberikan gambaran bahwa dia tidak sungguh-sungguh tertarik dengan Islam.       

Sekarang, kurang dari satu jam aku akan segera sampai di Kuala Lumpur. Sebelum melanjutkan penerbangan ke Indonesia, aku mampir beberapa hari disana karena kalah oleh bujukan sahabatku yang sedang bermukim di Malaysia.

Pesawat Airbus yang mengangkutku beserta barang-barang titipan itu landing dengan sempurna di bandara internasional KLIA. Hawa panas iklim tropis langsung menyerangku begitu melangkahkan kaki keluar pesawat. Aku langsung mengenakan kaca mata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari yang menyengat.

Erick sudah menungguku, wajahnya tersenyum sangat lebar.

“Keenan, my brother!” Sapanya hangat, memberikan pelukan khas lelaki.

“Hei hahaha long time no see” balasku pada sahabat yang sudah hampir 10 tahun tidak bertatap muka secara langsung. Terakhir saat aku pulang ke Indonesia, Erick sedang pergi bertugas ke Timur Tengah.

“Hai Keenan”, sapa sebuah suara lembut yang tiba-tiba muncul dari balik bahu Erick.

“Sandra?” Aku tertegun melihat sosok wanita di hadapanku yang langsung memelukku tanpa bisa dicegah.

“Gila, udah dewasa aja nih anak” Aku mengacak-acak rambut gadis itu yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Sandra adalah adik perempuan Erick, terpaut jarak 4 tahun. Terakhir bertemu, dia masih kelas 2 SMP dan sekarang menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang yang terurai.   

“Dia kebetulan lagi maen ke tempat gue, eh pas tau lo mampir dulu ke KL dia senengnya minta ampun” ujar Erick sambil menyikut lembut Sandra.

“Biasa cinta lama bersemi kembali, kayak Keenan mau aja sama lo hahaha” sambung Erick dan membuat Sandra melotot padanya.

“ Apaan sih lo, Rick, norak tahu!” Kulit putihnya seketika memerah.

“Gak usah didengerin ya Keenan”  ujar Sandra yang tak lama kemudian disesalinya.

“Oh jadi bohongan? Yah kirain beneran, udah seneng aja gue” Aku pura-pura kecewa, mengikuti arahan skenario tidak tertulis Erick yang hanya disampaikan oleh matanya yang mengedip-ngedip padaku.

“Eh.. bukan gitu” Sandra salah tingkah mendengar perkataanku dan langsung membuat aku dan Erick tertawa bersamaan.

“Jahat banget sih kalian, masih aja doyan ngerjain gue” balas Sandra dengan cemberut dan membuatku merasa tidak enak.

“Hahaha, jadi mau kemana nih kita. Ajak gue keliling KL dong udah lama gak kesini” pintaku mengalihkan pembicaraan. Kasian kalau Erick sudah mulai meledek Sandra, bisa sampai menangis dia dibuatnya.

“Yang pasti kita naro koper-koper lo dulu di apartemen gue, abis itu kita nyari late lunch atau bisa disebut early dinner di sekitaran KLCC aja deh” ujar Erick sambil melihat jam tangannya lalu membantuku membawa koper-koper.

“Banyak banget sih bawaan lo, katanya barang udah dikirim duluan ke Jakarta”, aku hanya tertawa mendengar komentar Erick. Tidak tahu saja dia kalau isinya kebanyakan bukan barang-barangku. Sebenarnya aku tahu maksud tersembunyi dari barang-barang titipan ini. Tapi ya sudahlah, setelah sampai Jakarta mungkin akan dilanjut roadshow ke beberapa kota.

Sore itu, setelah beristirahat sebentar di apartemen yang disewa Erick di dekat twin tower, kami pergi ke Mall Suriah yang ada di bawah menara kembar itu sekalian makan sambil mengobrol melepas rindu.

Banyak teman-teman SMA ku yang sudah menikah dan aku tidak pernah menghadiri satu pun pesta pernikahannya. Aku hanya mendengar kabar dari group milis atau dari cerita Erick. Hanya dengan Erick dan beberapa teman dekat sajalah komunikasiku tidak pernah terputus.

Pembicaraan kami sampai pada hal yang sering dibicarakan para laki-laki. Wanita. Erick sudah memiliki kekasih yang sudah dipacarinya selama 2 tahun dan berencana menikah tahun depan, dan seperti yang sudah aku duga dia pasti bertanya tentang percintaanku. Sandra yang juga ikut bersama kami tiba-tiba menegakkan badannya, seperti ingin mendengar ceritaku dengan lebih jelas.

“Belum ada bro, masih nyantei ajalah sendiri” ucapku ringan dan aku melihat Sandra menghela nafas lega.

“Tuh ada kesempatan tuh buat lo” Erick kembali meledek Sandra. Entahlah apakah gadis itu masih sama seperti 10 tahun yang lalu yang diam-diam menyukaiku. Aku tahu dari Erick yang memberitahu setelah dia iseng membaca buku harian Sandra.

 Kami mengobrol di area outside Mall dan Erick menawarkan rokok padaku.

“Sorry brother, gue udah gak ngerokok lagi.. yah paling kalau lagi pengen-pengen banget bolehlah satu atau dua batang” ujarku menolak secara halus dan membuat Erick melongo, Sandra malah berbinar-binar.

“Serius bro? Wah wah gak beres nih, wah lo pulang dari England kenapa jadi alim gini” Erick mencoba menelisikku. Hidup di negeri orang yang jauh dari keluarga memang bisa melahirkan pribadi yang berbeda. Berawal dari menghemat dan lebih memilih menabung atau membeli benda yang lebih berguna membuatku lambat laun meninggalkan rokok.

“Luar biasa ck ck ck” Erick berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tuh contoh tuh Rick, gak kayak lo yang makin tua malah makin ababil” Sandra dengan puas balik meledek Erick.

“Berisik lo” balas Erick. Kakak beradik itu seperti Tom and Jerry tapi sebenarnya mereka saling menyayangi.

 “Eh bro sorry, gue sama Sandra pergi bentar ye, biasa ngambil barang titipan Mommy, lo gak apa-apa kan ditinggal?”

“Sip, gak apa-apa, gue jalan-jalan sekitar sini aja” balasku sambil mengangkat kamera DSLR dan Erick mengangguk, dia mengerti kalau sahabatnya ini paling senang ditinggal berdua dengan kameranya.

“Ya udah deh, selamat berautis ria”

“Pergi dulu ya Keenan, paling dua jam lagi kita balik kesini”

Erick dan Sandra berlalu.

Semburat jingga sudah terlihat di langit Kuala Lumpur, aku segera mencari mushola untuk menunaikan sholat Magrib. Objek buruan jepretku saat ini adalah menara Petronas yang terlihat cantik di malam hari. Selepas sholat aku memutari daerah KLCC sambil menunggu cahaya-cahaya lampu yang mulai terlihat di badan menara.

Sesekali aku mengarahkan lensa kameraku ke kerumunan masyarakat Malaysia yang sedang menikmati waktu sore mereka di Taman Suriah. Ekspresi bahagia yang tertangkap kamera membuatku ikut merasakannya. Tapi ada satu objek yang lebih mencuri perhatianku sore itu. Tidak jauh dari tepi kolam. Seorang wanita muda, aku perkirakan usianya tidak lebih dari 25 tahun, duduk seorang diri. Matanya lurus menatap dancing fountain di hadapannya tapi sepertinya jiwa dan pikirannya tidak disana. Tatapannya kosong namun bernyawa. Terlihat cantik dibalut kerudung hijau toscanya. Aku membidikkan kameraku ke arahnya, mengabadikan moment yang entah kenapa terasa sangat memikat.

Di tengah keramaian di taman itu, dia tampak menikmati kesendiriannya. Apa yang sedang dipikirkannya? Tidak pernah aku merasa tertarik seperti ini pada masalah orang lain, apalagi orang yang sama sekali tidak aku kenal. Tiba-tiba saja ada dorongan yang sangat kuat untuk mendekatinya sebelum seorang wanita datang dan menyapanya. Oh mungkin itu temannya, ternyata dia tidak datang sendirian, syukurlah. Rupanya bukan hanya aku yang tertarik untuk mendekat, anjing pudle kecil yang tidak tahu milik siapa melewatiku dan berlari ke arahnya, duduk tepat di samping gadis itu. Sesaat dia tidak menyadarinya sampai teman di sampingnya menunjuk anjing itu dan menertawakannya. Aku pun ikut tertawa melihat gadis itu melompat tiba-tiba. Aku mengarahkan lagi lensa kameraku tapi mereka sudah berlari. Gadis berkerudung hijau tosca dan temannya sudah pergi dengan terburu-buru, meninggalkan aku dan rasa penasaranku.

Pertemuan searah dengan gadis itu meninggalkan kesan yang berbeda. Sepertinya dia bukan penduduk Kuala Lumpur karena membawa tas ransel seperti seseorang yang bepergian jauh, mungkin dari kota lain atau mungkinkah  Indonesia?

 Di belakangku, lampu Patronas serentak menyala bersamaan dengan permintaan kecil yang terlintas dalam hati. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali bertemu dengannya, lebih dekat.

***

==PART 2 END==

==BERSAMBUNG KE PART 3-1==

 

Senin, 13 Juli 2015

CINTA DI UJUNG JARI / PART 2-1

DUA

 

                Kadang, kita menemukan sebuah kehangatan dari orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya.  Teman, sahabat, saudara, dan mungkin juga cinta. Merekalah yang menjadikan setiap jengkal tanah yang kupijak terasa seperti rumah. Tidak merasa asing di negeri yang asing. Sebuah rumah yang jauh dari rumah itu sendiri.

                “Keenan, try this out! Gado-gado seadanya”, ucap Mbak Anita, seorang Ibu muda dengan dua orang anak dan sedang mengejar gelar PhD di Universitas Nottingham. Wanita tangguh yang selalu tersenyum namun hatinya merindu. Sudah dua tahun dia tidak pulang ke Indonesia dan meninggalkan kedua orang buah hatinya yang masih kecil-kecil. Selalu ada harga yang harus dibayar demi sebuah cita-cita.

                “Eh coba yang ini dulu,  buatan Ibu loh”, tangan Bu Puspa yang bulat menarikku ke dekat sebuah makanan berwarna coklat mirip makanan kucing yang dihaluskan.

                “Apa nih Bu?” Aku menyomotnya sedikit ke dalam piring kecil yang sudah penuh dengan segala macam makanan khas Nusantara yang dibuat sejadi-jadinya.

                “Masa gak tahu, ini tiwul makanan ndeso, ya walau bentuknya sedikit hancur tapi enak. Haduh jadi kangen si Mbah, kangen kampung. Nanti kalau Keenan sampai ke Indonesia jangan lupa mampir ke Solo yah ketemu sama anak Ibu, udah Ibu kasih liat foto Keenan eh dia langsung mesem-mesem, ganteng katanya mirip Fedy Nuril jadi langsung minta dikenalin, dasar anak jaman sekarang gak ada ayu-ayunya, pokoke Ibu setuju buanget kalau Keenan jadi mantu Ibu”, aku tertawa mendengar ocehan Bu Puspa yang sulit untuk dihentikan.  

                “Apa toh Bu Puspa ini maen nyabet aja, Keenan sudah ditag sama Saya duluan, iya kan Nak Keenan” Seperti tidak mau kalah, Ibu Masyitah dan beberapa ibu-ibu yang lain ikut nimbrung.

                “Ciee yang diperebutin ibu-ibu, mantu idaman nih” Yunita, yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah berada di sampingku.

                “Hussh, udah ah yuk kita kesana aja” Aku dan Yunita diam-diam meninggalkan kerumunan ibu-ibu yang masih memperdebatkan siapa untuk siapa.

                “Mas, Yuni boleh titip sesuatu yah buat Ibu. Dua hari yang lalu Ibu Yuni ulang tahun. Titip peluk juga ya Mas Keenan, tolong pelukin Ibu Yuni bilang Yuni kangen banget”, ada-ada saja permintaannya tapi tetap aku sanggupi juga.    

Kerindukan kepada sanak keluarga dan tanah air memang menjadi penyakit langganan di kalangan para musafir ini. Banyak dari mereka yang pantang pulang sebelum menyelesaikan studi. Selain pelajar, banyak juga para pekerja yang dengan gigih mengumpulkan pundi-pundi kehidupan untuk dikirim pada keluarganya di tanah air. Aku sendiri dalam 10 tahun ini hanya 3 kali pulang ke Indonesia. Pertama setelah menyelesaikan undergraduated selama tiga tahun di Universitas Birmingham, lalu kembali ke Inggris untuk melanjutkan program master di bidang manajemen bisnis, masih di Universitas yang sama. Kedua saat ayahku menikah lima tahun yang lalu dan terakhir pulang Lebaran tahun kemarin.

               Berkumpul bersama mereka menjadi pengingat akan jati diri sebagai orang Timur agar tidak terbawa arus pergaulan. Setiap hari berinteraksi dengan orang-orang barat dengan segala tingkah laku dan kebiasaan yang jauh dari adat dan norma Islami. Maka setiap bulannya kami ada pengajian rutin yang biasa diadakan di mesjid, mushola, ataupun di rumah anggota. Ada juga acara tahunan yang berlangsung selama dua hari di kota yang terpilih.

Tahun ini acara gathering berlangsung di kota Aberdeen yang merupakan kota terbesar ketiga di Skotlandia setelah Glasgow, dan Edinburgh. Selain untuk mendengarkan tausiyah dari ustad-ustad hebat dan tentunya makan makanan Indonesia, acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi, bukan hanya bagi saudara-saudara Muslim yang tinggal di kota yang sama, tapi juga yang berasal dari berbagai tempat di seluruh penjuru Inggris.  Bu Puspa, Mbak Anita, Pak Rozak, Pak Zaki, adalah sebagian orang yang tinggal di Nottingham. Yunita, Yolanda, Mas Teguh, Fahri, Pak Dodi, adalah sebagian kecil dari WNI yang bermukim di Birmingham. Banyak juga yang tinggal di Manchester, Oxfordshire, Newcastle, dan London.

Saat masih menempuh pendidikan master aku tinggal di Birmingham, dan sejak dua tahun yang lalu aku menyewa apartemen kecil di kota London dan bekerja sebagai photografer freelance bagi perusahaan-perusahaan lokal dan mengisi salah satu rubrik bisnis di surat kabar harian London, sebelum ayah memintaku pulang ke Indonesia.

Warga Indonesia khususnya mahasiswa memang paling banyak memilih untuk tinggal di luar London, karena selain biaya hidup di London jauh lebih tinggi dibanding daerah lain di Inggris juga banyak dari mereka yang mencari ketenangan dalam menuntut ilmu.

                “Mas Keenan pulang lagi ndak ke sini?” tanya Yunita. Aku sendiri tidak tahu pasti jawabannya. Inggris sudah menjadi rumah kedua bagiku. Tapi tanggung jawab di tanah air juga sudah menungguku.                            

“Belum tahu Yun, kita lihat saja nanti bagaimana takdir membawaku” Jawabanku meninggalkan raut kesedihan di wajah Yuni. Gadis itu adalah adik tingkatku di University of Birmingham, melanjutkan studi di jurusan yang sama denganku karena itulah dia paling sering berdiskusi dan bertanya padaku. Insyaalloh, jika lancar maka tidak lama lagi dia juga akan segera pulang ke Indonesia.

“Nak Keenan bisa bicara sebentar” Pinta Pak Zaki, ketua perkumpulan Muslim Indonesia di Britania Raya. Aku titipkan piringku pada Yuni dan menghampiri Pak Zaki.

“Jangan lupa undangan dari Ustad Zakariya di Jogja yah Nak Keenan”

“Insyaalloh Pak”

“Beliau sangat ingin bertemu dengan Nak Keenan, sekedar memperpanjang silaturahim saja ya sekaligus mengenalkan dengan putrinya, Aisha”

Aku tersenyum.

 “Terimakasih Pak, tapi saya tidak percaya diri kalau berhadapan sama anak ustad, ilmu agama saya masih sedikit” balasku jujur. Memang benar, aku sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan sehari pun di pesantren mana pun, bahkan pesantren kilat sekalipun. Selama ini pemahamanku tentang agama yang sejak lahir aku anut hanya berasal dari ustad yang dipanggil orang tuaku ke rumah saat aku masih kecil, buku-buku, dan tausiyah yang sering aku dengarkan sejak tinggal di Inggris. Berada di negeri orang selain menuntut kemandirian juga semakin membuatku merasa bergantung pada Rabb semesta alam.

“Tidak ada salahnya toh dicoba, kalau jodoh tidak kemana. Ingat laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan begitu pula sebaliknya. Bapak yakin Nak Keenan seorang laki-laki yang baik” Ucapan yang dikatakan Pak Zaki dengan sorot mata kebapak’an membuatku ingin memeluknya.

“Sayang Bapak tidak punya anak perempuan kalau ada sudah Bapak kawinkan dengan Nak Keenan” tambah Pak Zaki dan kami pun tertawa bersama. Terima kasih Pak Zaki atas semua kehangatan dan tausiyah yang Bapak berikan. Semoga Bapak dapat segera pulang ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarga disana.

Sekilas aku melihat ibu-ibu di belakang punggung Pak Zaki saling melirik dan berbisik. Lucu juga melihat tingkah ibu-ibu dan bapak-bapak ini yang sibuk merekomendasikan anak atau kerabat perempuannya untuk dikenalkan padaku. Umurku memang sudah pas untuk menikah dan keinginan untuk segera membina rumah tangga pun sudah terlintas dalam pikiranku. Hanya saja, masalah jodoh adalah masalah hati dan Allah lah yang menggerakkannya.

Aku pamit lebih dulu dan melanjutkan perjalanan ke kota Edinburgh yang tidak jauh dari Aberdeen, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai kesana menggunakan bus. Aku menyiapkan kamera DSLR kebanggaanku, siap mengabadikan kota cantik itu ke dalam setiap jepretan.

Fotografi adalah hidupku. Memang tidak ada kaitannya dengan studi master yang aku ambil. Menjadi seorang MBA lulusan University of Birmingham dengan predikat summa cumlaude tidak menjadikan mimpiku tersisihkan. Aku mencintai dunia fotografi dan akan tetap seperti itu.

Waktu menunjukkan pukul 4 lewat 15 menit, masih siang untuk ukuran Inggris di awal musim semi. Aku menginjakkan kembali kakiku di Edinburg, salah satu kota favoriteku yang merupakan ibukota Skotlandia. Edinburgh terkenal dengan keindahan alam dan warisan budaya yang mampu menghipnotis siapapun yang memandangnya. 

Banyak turis yang datang ke kota ini, baik dari Britania Raya ataupun negara-negara lain di Eropa. Pertama kali mengunjungi Edinburgh bersama teman-teman fakultasku, Simon Whitewood dan Matthiew Bennet, sekitar tiga tahun yang lalu. Simon dan Matt memang berasal darisana. Mereka mengajak berkeliling kota sekaligus menjadi tour guide. Paham dengan hobiku, mereka memperlihatkan spot-spot terbaik dari kota ini yang akan membuat lensa kameraku jatuh cinta. Salah satunya berada di tengah-tengah city center yang terdiri dari perbukitan, dari sana kita bisa melihat keseluruh area mulai dari museum, castle, taman, dan sungai. Bagiku Edinburgh adalah kota yang romantis dengan bangunan-bangunan tua yang menjulang tinggi, hampir seperti Praha di Cesko, dan tidak kalah romantisnya dengan Paris. Tujuanku datang kembali ke kota ini selain mengunjungi Matthiew juga sebagai perpisahan dengan negeri yang sudah memberikan banyak warna dalam hidupku.

Matt sudah menungguku, duduk di kursi taman depan sebuah coffee shop berkanopi merah dengan aneka macam bunga di pinggiran jendelanya. Dia merentangkan tangannya dan tersenyum menyambutku.

Hi Dude! Welcome back to Edinburgh”.

 

***

                Kosong dan hampa. Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku berdiam diri beberapa saat selepas sholat Isya di prayer room yang ada di bandara. Tidak berdoa, hanya diam. Diam yang kini menjadi hobi baru bagiku. Imanku memang sedang sakit, tapi tidak lantas membuatku meninggalkan kewajiban. Entahlah, mungkin masih tersisa rasa takut pada ancaman bagi orang-orang yang meninggalkan sholat. Walaupun sekarang aku lebih suka mengakhir-akhirkannya , tak apalah yang penting sholat.

                Apakah aku marah? Tidak. Merasa dipermainkan? Iya. Tapi apa  dayaku? Tidak ada. Terserah Dia mau melakukan apa, tidak akan ada yang bisa melarang. Dia berhak menerbangkanku ke langit ke tujuh sekalipun lalu menghempaskanku ke dasar bumi.

                Aku memejamkan mata dan mereka ulang semua peristiwa. Tiga tahun yang lalu, awal aku memulai segalanya. Dengan rasa optimis dan semangat muda aku melangkahkan kaki di jalan ini. Aku percaya semakin muda aku memulai maka semakin cepat aku bisa menuai hasilnya. Di tahun pertama, aku merasa keberuntungan selalu berpihak padaku kemudian tiba-tiba semua hancur. Aku bangkit lagi, jelas. Beberapa kali pun aku jatuh aku mencoba bangun lagi. Karena aku percaya, semua akan indah pada waktunya. Tapi semangat dan optimisme yang tinggi tidak lantas membuatnya membaik, malah semakin memburuk.

                Hanya Kau tempatku mengadu, tempat aku menyandarkan semua harap dan asa. Aku hanya menangis di hadapanMu, tak pernah sekali pun aku memperlihatkan kelemahanku pada orang-orang, bahkan kedua orang tuaku. Bukan karena aku tidak mau mereka bersedih untukku tapi aku tidak mau mereka menganggapku salah memilih jalan. Aku tidak mau menjilat ludahku sendiri. Jadi bagaimana pun caranya aku harus bertahan di jalan yang sudah aku pilih. Mimpi ini adalah harga mati bagiku.

                Kadang, aku merasa Kau tidak adil. Orang kaya membagikan sebagian rezekinya yang tidak habis-habis kepada anak-anak yatim. Hebat, pahala yang besar bagi mereka. Orang miskin mencuri untuk menyambung hidup. Hina, dosa besar bagi mereka. Tapi bagaimana jika keadaannya dibalik? Orang kaya itu belum tentu tidak akan menjadi pencuri jika terhimpit kemiskinan dan orang miskin itu pun mungkin akan lebih menyantuni anak-anak yatim jika dia punya harta yang berlebih. Lalu, dimana letak keadilannya?

Aku menghela nafas dan menanggalkan mukena, bergegas keluar mushola. Ella sedang tidak sholat jadi dia menungguku di dekat toilet wanita.

Tengah malam, ngemper di lantai bandara LCCT seperti ikan paus yang terdampar. Mengenaskan. Aku menjadikan tas ransel sebagai bantal, dengan kaki diangkat ke atas. Menyusuri setiap halaman web untuk menemukan jalan pulang ke Indonesia dengan ringgit yang sekarat. Di sampingku, Ella menyandarkan punggungnya pada dinding dekat colokan listrik. Handphone dan internet menjadi penyambung nyawa kami, beruntung di bandara tersedia wifi gratis, hal baik pertama yang terjadi.

                Hal baik kedua adalah, sisa roti yang aku bawa dari Indonesia kemaren malam tapi harus aku bagi dengan Ella. Tidak sampai mengganjal perut tapi lumayanlah daripada menggigit jari. Sisa uang di dompetku hanya tinggal RM 52 dan dua lembar uang seratus ribu rupiah. No credit card. Aku rasa Ella pun tidak jauh berbeda denganku, mungkin hanya selisih beberapa ringgit saja, karena Ella lebih bisa menahan diri jika melihat jajanan.

                Anehnya, kejadian ini tidak membuat aku takut atau cemas, justru semakin membuatku excited. Entahlah dengan Ella, karena besok seharusnya dia bekerja. Tidak ada seorang pun teman di Indonesia yang masih hidup di jam segini. BBM, whasap, line, atau apapun tidak ada satu pun yang dibalas. Teman Ella pun begitu, giliran ada satu orang yang balas eh dia tidak bisa menolong karena tabungannya habis. Tidak ada yang bisa membelikan kami tiket pesawat balik ke Indonesia. Petugas loket tadi mengatakan harga tiket kemungkinan RM 330 dan loket pembelian tiket baru dibuka kembali jam 4 nanti.

                Aku mencari alternatif lain yang memungkinkan. “La, gimana kalau kita ke Singapore aja dari sana kita nyebrang ke Batam, nah kalau udah nyampe Batam beli tiketnya gampang”.

                Tatapan Ella seperti mengatakan ‘Kamu gila!’ tapi kemudian keningnya berkerut tanda otaknya sedang menimbang usulanku.

                “Ke Singapore bisa pake Bus dari sini ke Johor Bahru, cuma 26 RM terus nanti nyambung lagi pake Bus juga cuma RM 2, sisanya kita tuker ke dollar singapore buat naek MRT ke Harbourfront, kita naek feri dari sana”, jelasku sambil menunjukkan blog yang aku temukan di internet tentang perjalanan dari Malaysia ke Singapore dan dari Singapore ke Batam.

                Ella masih belum bergeming, tapi aku yakin tawaranku sedikit menarik minatnya.

                “Daripada nungguin disini La, gak bakal ada yang ngasih duit juga lagian sayang aja kemahalan kalau RM 330 itu juga masih perkiraan, bisa aja lebih mahal. Kalau kita ke Singapore dulu mungkin bisa lebih hemat, sekalian nengokin Singapore, La”, aku terus memprovokasinya. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, bahkan aku sendiri tidak mau mengakuinya, aku senang kami tertinggal pesawat. Setidaknya mengulur waktu untuk pulang. Lebih bagus lagi tidak usah pulang sekalian.

                “Emang bus ke Singapore berangkatnya jam berapa?” tanya Ella, matanya membesar tanda mulai excited seperti aku.      

“Kata di blog ini sih jam 12.30 malem”

                Glek, aku menelan ludah. Ella memandangku dan selama seperkian detik kami terdiam saling menatap. Menyadari sesuatu, aku dan Ella langsung berdiri dan berlari menuju pangkalan Bus di luar bandara.

***

==BERSAMBUNG KE PART 2-2==

CINTA DI UJUNG JARI / PART 1-3

LANJUTAN ....

***

            Sudah tiga hari sejak Nina mengirim sms pada Kang Irwan, pemilik Smart Student tapi belum ada balasan. Kedua gadis itu tidak putus asa. Setiap hari mereka kembali berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Harapan yang kian menipis terus disiram dan dipupuk agar tetap hidup. Nina sedikit lebih pesimis dan penakut sejak dulu. Tapi Arumi dengan semangat 45 mencoba mengobarkan kembali semangat Nina. Dia tidak mau Nina sampai menyerah, dia tidak mau kehilangan Nina. Bagaimanapun dia membutuhkan teman seperjuangan.

            Telepon genggam Nina berbunyi, ada pesan yang masuk dan langsung dibacanya. Mata Nina terbelalak kaget begitu tahu kalau pesan itu adalah jawaban yang sedang mereka tunggu. Kang Irwan setuju untuk bertemu dengan mereka.

            “Emang kamu smsnya gimana Na?” tanya Arumi.

            “Kang, kita mau sewa tempat di Smart Student, gitu?” Jawaban Nina lebih terdengar seperti pertanyaan. Arumi langsung meringis.

            “Ya udahlah, bismillah aja. Yuk kita temui sekarang” ajak Arumi. Mereka berdua mengumpulkan segenap keberanian dan pergi ke tempat bimbelan itu.

            Kang Irwan, pria jangkung dengan senyum yang menawan, pintar, lulusan ITB. Kakak kelas 15 tahun di atas Arumi dan Nina. Mereka berdua tidak mengenalnya, bahkan bertatap muka secara langsung pun belum pernah. Selama ini mereka tahu tentang Kang Irwan dari teman-temannya yang dulu bimbel di Smart Student. Katanya Kang Irwan ganteng, baik, dan soleh. Jika benar seperti itu, mungkin peluang mereka diizinkan mangkal di depan tempat bimbelnya semakin besar.

            Kedua sahabat itu merasa kikuk saat dipersilahkan masuk ke ruang kerja Kang Irwan. Nekat dan menjual nama Icha menjadi modal mereka. Yah, ternyata Kang Irwan masih ingat pada Icha, siswi berprestasi yang sekarang kuliah di Unpad. Awal yang baik untuk memulai percakapan.

            Mereka menjelaskan niat dan tujuan kedatangan, bersyukur sepertinya Kang Irwan tertarik. Bukan dengan dagangan mereka, tapi lebih pada semangat dan keberanian dua gadis itu dalam memilih jalan hidup. Terjadi kesalahpahaman antara mereka, maksud Arumi dan Nina adalah menyewa sedikit tempat untuk menyimpan gerobak mereka tapi Kang Irwan, entah memang sengaja atau keliru. Dia menawarkan tempat yang jauh melebihi harapan Arumi. Sebuah garasi.

            Garasi yang tidak terpakai itu berukuran cukup luas, mungkin sekitar 50 meter persegi ditambah dengan dapur serta kamar mandi di belakangnya. Letak garasi itu bersebelahan dengan ruang mengajar bimbelan. Arumi dan Nina bertukar pandang. Entah harus berkata apa.  Pertama mereka kaget karena langsung diberi kepercayaan oleh orang yang baru dikenalnya satu jam yang lalu. Kedua, berapa harga sewa ruangan sebesar itu di tengah kota Sukabumi?

            “Memang kalian berani sewa berapa?” tanya Kang Irwan dengan tersenyum ramah. Kalkulator di kepala Arumi langsung bekerja hitung-hitungan, sudah tentu ini kesempatan emas jangan sampai terlewatkan. Dari pengalaman Arumi mencari tempat dan sempat sok-sok’an menanyakan harga kios kecil yang disewakan di sekitar sana, harganya mencapai belasan juta. Bisa jadi dengan luas, fasilitas, dan lokasi yang strategis garasi ini bernilai puluhan juta. Arumi menelan ludah.

            “Sudah kalian pakai saja jika sudah sukses baru kalian sewa” ujar Kang Irwan yang sepertinya tahu apa yang sedang dipikirkan kedua gadis itu.

            “Dan pastikan kalian sukses”, tambah Kang Irwan. Arumi dan Nina hampir saja melompat saking senangnya sekaligus tidak percaya pada pendengaran mereka. Gratis? Tempat yang bisa saja bernilai 20 jutaan ini gratis? Subhanallah. Maha Suci Allah.

            Keajaiban pertama dalam hidup Arumi yang membuat semangat dan kepercayaannya meningkat lebih dari seribu persen. Ingin sekali dia cepat-cepat berlari pulang dan mengabarkan pada mamah dan bapaknya. Bapak lihat kan? Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah asalkan kita yakin pada kekuasaan-Nya dan tidak pernah putus asa, Allah pasti akan memberikan jalannya.

            Entah bagaimana jadinya jika saat itu Arumi menyerah. Saat lahan 2x2 yang ingin disewanya ternyata sudah lebih dahulu diambil orang. Sedih dan kecewa yang dirasakannya saat itu kini berganti dengan kesenangan yang berkali-kali lipat. Memang Allah lebih mengetahui apa yang terbaik, jauh di atas pengetahuan manusia. Di saat pintu yang satu tertutup mungkin memang bukan itu jalannya, dan Allah sudah menyiapkan pintu yang lain. Itulah pelajaran hidup yang Arumi dapat hari itu. Jangan menyesali apalagi meratapi suatu kemalangan karena mungkin saja kemalangan itu akan mengantarkan pada takdir yang sebenarnya.

            “Nanti detail dan teknisnya kalian bisa mengobrol dengan Teh Ani, istri saya” lanjut Kang Irwan yang sekarang sudah menjelma menjadi malaikat tak bersayap di mata Arumi dan Nina. Kedua gadis itu mengangguk.

            Sebelumnya Arumi dan Nina hanya mempersiapkan dana untuk membuat satu buah gerobak dan menyewa satu petak lahan, sama sekali tidak terpikirkan untuk membuat sebuah mini cafe. Seperti biasa, dengan modal nekat dan kepercayaan diri yang tinggi, akhirnya Arumi membobol seluruh sisa tabungannya yang separuhnya sudah dia habiskan untuk memancing rezeki. Sesuai anjuran Rasul yang ramai dikampanyekan para ustad di televisi.

Lahaula Walakuwwata Illa billah.

 

==PART 1 END==

==BERSAMBUNG KE PART 2-1==