LANJUTAN ...
***
“What is your planning after back to your country?” tanya seorang sahabat bule di suatu sore yang kering saat dia menemaniku menjejalkan barang-barang titipan ke dalam koper. Barang-barang pribadiku sendiri sudah lebih dulu dikirim ke Jakarta agar aku tidak harus repot membawa banyak barang.
“Build my own studious photo” Jawabku singkat.
“Just it? You can do that in here with me, or if you want a job, it’s easy for you. I mean look at you, you’re smart, briliant”
“Nope, I just want my studious photo come to real”, memang terdengar gila. Sekolah jauh-jauh dan meraih gelar master hanya untuk membangun sebuah studio foto. Tapi apa salahnya? Toh ilmu tidak akan berat untuk dibawa.
“Don’t you ever think to stay here, by my side?” Kimberly masih terus membujukku untuk tinggal di Inggris. Dia mengulurkan tangannya dan segera kuraih.
“I love you, Keenan. Please don’t go” Mata hazelnutnya yang hangat mulai berkaca-kaca. Kim gadis Inggris yang cantik dan sopan. Kami bertemu di London, saat aku menghadiri sebuah pameran photo. Dia mempunyai hobi fotografi sepertiku dan kami sering bertukar cerita. Terkadang pergi bersama ke suatu tempat yang menggelar pameran foto. Banyak hal yang telah kami lalui bersama dan itu menimbulkan perasaan lain di hati Kim untukku.
“And you know I love you too, Kim” balasku.
“As a friend” aku buru-buru menambahkan agar tidak terjadi kesalahpahaman lebih lanjut. Kim mengerti, cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi dia tetap berharap, suatu saat nanti aku bisa memberikan perasaanku padanya. Dia bahkan sudah rela melepas kepercayaannya dan mempelajari agamaku. Sungguh kesempatan yang sangat baik. Tapi aku tidak bisa memanfaatkannya. Jika benar dia tertarik dengan Islam, seharusnya dia belajar mengenalnya dengan tulus bukan karena jatuh cinta padaku. Aku sempat memberikannya buku-buku religi dan kitab suci Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris. Tapi sama sekali tidak pernah disentuhnya. Tak jarang aku memergoki dia meletakkannya di sembarang tempat. Hal itu sedikitnya memberikan gambaran bahwa dia tidak sungguh-sungguh tertarik dengan Islam.
Sekarang, kurang dari satu jam aku akan segera sampai di Kuala Lumpur. Sebelum melanjutkan penerbangan ke Indonesia, aku mampir beberapa hari disana karena kalah oleh bujukan sahabatku yang sedang bermukim di Malaysia.
Pesawat Airbus yang mengangkutku beserta barang-barang titipan itu landing dengan sempurna di bandara internasional KLIA. Hawa panas iklim tropis langsung menyerangku begitu melangkahkan kaki keluar pesawat. Aku langsung mengenakan kaca mata hitam untuk melindungi mata dari sinar matahari yang menyengat.
Erick sudah menungguku, wajahnya tersenyum sangat lebar.
“Keenan, my brother!” Sapanya hangat, memberikan pelukan khas lelaki.
“Hei hahaha long time no see” balasku pada sahabat yang sudah hampir 10 tahun tidak bertatap muka secara langsung. Terakhir saat aku pulang ke Indonesia, Erick sedang pergi bertugas ke Timur Tengah.
“Hai Keenan”, sapa sebuah suara lembut yang tiba-tiba muncul dari balik bahu Erick.
“Sandra?” Aku tertegun melihat sosok wanita di hadapanku yang langsung memelukku tanpa bisa dicegah.
“Gila, udah dewasa aja nih anak” Aku mengacak-acak rambut gadis itu yang sudah aku anggap seperti adik sendiri. Sandra adalah adik perempuan Erick, terpaut jarak 4 tahun. Terakhir bertemu, dia masih kelas 2 SMP dan sekarang menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut panjang yang terurai.
“Dia kebetulan lagi maen ke tempat gue, eh pas tau lo mampir dulu ke KL dia senengnya minta ampun” ujar Erick sambil menyikut lembut Sandra.
“Biasa cinta lama bersemi kembali, kayak Keenan mau aja sama lo hahaha” sambung Erick dan membuat Sandra melotot padanya.
“ Apaan sih lo, Rick, norak tahu!” Kulit putihnya seketika memerah.
“Gak usah didengerin ya Keenan” ujar Sandra yang tak lama kemudian disesalinya.
“Oh jadi bohongan? Yah kirain beneran, udah seneng aja gue” Aku pura-pura kecewa, mengikuti arahan skenario tidak tertulis Erick yang hanya disampaikan oleh matanya yang mengedip-ngedip padaku.
“Eh.. bukan gitu” Sandra salah tingkah mendengar perkataanku dan langsung membuat aku dan Erick tertawa bersamaan.
“Jahat banget sih kalian, masih aja doyan ngerjain gue” balas Sandra dengan cemberut dan membuatku merasa tidak enak.
“Hahaha, jadi mau kemana nih kita. Ajak gue keliling KL dong udah lama gak kesini” pintaku mengalihkan pembicaraan. Kasian kalau Erick sudah mulai meledek Sandra, bisa sampai menangis dia dibuatnya.
“Yang pasti kita naro koper-koper lo dulu di apartemen gue, abis itu kita nyari late lunch atau bisa disebut early dinner di sekitaran KLCC aja deh” ujar Erick sambil melihat jam tangannya lalu membantuku membawa koper-koper.
“Banyak banget sih bawaan lo, katanya barang udah dikirim duluan ke Jakarta”, aku hanya tertawa mendengar komentar Erick. Tidak tahu saja dia kalau isinya kebanyakan bukan barang-barangku. Sebenarnya aku tahu maksud tersembunyi dari barang-barang titipan ini. Tapi ya sudahlah, setelah sampai Jakarta mungkin akan dilanjut roadshow ke beberapa kota.
Sore itu, setelah beristirahat sebentar di apartemen yang disewa Erick di dekat twin tower, kami pergi ke Mall Suriah yang ada di bawah menara kembar itu sekalian makan sambil mengobrol melepas rindu.
Banyak teman-teman SMA ku yang sudah menikah dan aku tidak pernah menghadiri satu pun pesta pernikahannya. Aku hanya mendengar kabar dari group milis atau dari cerita Erick. Hanya dengan Erick dan beberapa teman dekat sajalah komunikasiku tidak pernah terputus.
Pembicaraan kami sampai pada hal yang sering dibicarakan para laki-laki. Wanita. Erick sudah memiliki kekasih yang sudah dipacarinya selama 2 tahun dan berencana menikah tahun depan, dan seperti yang sudah aku duga dia pasti bertanya tentang percintaanku. Sandra yang juga ikut bersama kami tiba-tiba menegakkan badannya, seperti ingin mendengar ceritaku dengan lebih jelas.
“Belum ada bro, masih nyantei ajalah sendiri” ucapku ringan dan aku melihat Sandra menghela nafas lega.
“Tuh ada kesempatan tuh buat lo” Erick kembali meledek Sandra. Entahlah apakah gadis itu masih sama seperti 10 tahun yang lalu yang diam-diam menyukaiku. Aku tahu dari Erick yang memberitahu setelah dia iseng membaca buku harian Sandra.
Kami mengobrol di area outside Mall dan Erick menawarkan rokok padaku.
“Sorry brother, gue udah gak ngerokok lagi.. yah paling kalau lagi pengen-pengen banget bolehlah satu atau dua batang” ujarku menolak secara halus dan membuat Erick melongo, Sandra malah berbinar-binar.
“Serius bro? Wah wah gak beres nih, wah lo pulang dari England kenapa jadi alim gini” Erick mencoba menelisikku. Hidup di negeri orang yang jauh dari keluarga memang bisa melahirkan pribadi yang berbeda. Berawal dari menghemat dan lebih memilih menabung atau membeli benda yang lebih berguna membuatku lambat laun meninggalkan rokok.
“Luar biasa ck ck ck” Erick berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tuh contoh tuh Rick, gak kayak lo yang makin tua malah makin ababil” Sandra dengan puas balik meledek Erick.
“Berisik lo” balas Erick. Kakak beradik itu seperti Tom and Jerry tapi sebenarnya mereka saling menyayangi.
“Eh bro sorry, gue sama Sandra pergi bentar ye, biasa ngambil barang titipan Mommy, lo gak apa-apa kan ditinggal?”
“Sip, gak apa-apa, gue jalan-jalan sekitar sini aja” balasku sambil mengangkat kamera DSLR dan Erick mengangguk, dia mengerti kalau sahabatnya ini paling senang ditinggal berdua dengan kameranya.
“Ya udah deh, selamat berautis ria”
“Pergi dulu ya Keenan, paling dua jam lagi kita balik kesini”
Erick dan Sandra berlalu.
Semburat jingga sudah terlihat di langit Kuala Lumpur, aku segera mencari mushola untuk menunaikan sholat Magrib. Objek buruan jepretku saat ini adalah menara Petronas yang terlihat cantik di malam hari. Selepas sholat aku memutari daerah KLCC sambil menunggu cahaya-cahaya lampu yang mulai terlihat di badan menara.
Sesekali aku mengarahkan lensa kameraku ke kerumunan masyarakat Malaysia yang sedang menikmati waktu sore mereka di Taman Suriah. Ekspresi bahagia yang tertangkap kamera membuatku ikut merasakannya. Tapi ada satu objek yang lebih mencuri perhatianku sore itu. Tidak jauh dari tepi kolam. Seorang wanita muda, aku perkirakan usianya tidak lebih dari 25 tahun, duduk seorang diri. Matanya lurus menatap dancing fountain di hadapannya tapi sepertinya jiwa dan pikirannya tidak disana. Tatapannya kosong namun bernyawa. Terlihat cantik dibalut kerudung hijau toscanya. Aku membidikkan kameraku ke arahnya, mengabadikan moment yang entah kenapa terasa sangat memikat.
Di tengah keramaian di taman itu, dia tampak menikmati kesendiriannya. Apa yang sedang dipikirkannya? Tidak pernah aku merasa tertarik seperti ini pada masalah orang lain, apalagi orang yang sama sekali tidak aku kenal. Tiba-tiba saja ada dorongan yang sangat kuat untuk mendekatinya sebelum seorang wanita datang dan menyapanya. Oh mungkin itu temannya, ternyata dia tidak datang sendirian, syukurlah. Rupanya bukan hanya aku yang tertarik untuk mendekat, anjing pudle kecil yang tidak tahu milik siapa melewatiku dan berlari ke arahnya, duduk tepat di samping gadis itu. Sesaat dia tidak menyadarinya sampai teman di sampingnya menunjuk anjing itu dan menertawakannya. Aku pun ikut tertawa melihat gadis itu melompat tiba-tiba. Aku mengarahkan lagi lensa kameraku tapi mereka sudah berlari. Gadis berkerudung hijau tosca dan temannya sudah pergi dengan terburu-buru, meninggalkan aku dan rasa penasaranku.
Pertemuan searah dengan gadis itu meninggalkan kesan yang berbeda. Sepertinya dia bukan penduduk Kuala Lumpur karena membawa tas ransel seperti seseorang yang bepergian jauh, mungkin dari kota lain atau mungkinkah Indonesia?
Di belakangku, lampu Patronas serentak menyala bersamaan dengan permintaan kecil yang terlintas dalam hati. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali bertemu dengannya, lebih dekat.
***
==PART 2 END==
==BERSAMBUNG KE PART 3-1==